Mahasiswa UB Ciptakan Alat Peningkat Produktivitas Padi Berfrekuensi Kicauan Burung

Semarang, Idola 92.6 FM – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang menciptakan alat untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi melalui teknik sonic bloom atau frekuensi kicauan burung.

Alat tersebut bernama “Tersimeniom” yang sekaligus meraih Juara Umum I pada Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) yang digelar di Institut Pertanian Bogor (IPB), selama dua hari (17-18/9/2016).

Inovasi “Tersimeniom” menang pada kategori Penerapan Teknologi Budidaya Pertanian. Karya tersebut dibuat oleh tim dari Divisi Aerokreasi Jurusan Teknik Mesin, beranggotakan Siti Amalina Azahra, Achmad Syafi’udin, Dimas Eko Prasetyo, dengan dibimbing dosen Bayu Satriya Wardhana, ST., M.Eng.

Dalam rilis yangditerima Radio Idola, Sabtu (24/9), Ketua Tim, Amalina menjelaskan, proses pembuatan perangkat tersebut terinspirasi dari riset peneliti asal Australia, Dr. Dan Carlson, yang meneliti pembukaan stomata pada tumbuhan dapat dipengaruhi oleh frekuensi kicauan burung.

“Dengan pembukaan stomata yang lebih besar, dapat mempengaruhi hasil fotosintesis karena penyerapan CO2 dan mineral lebih maksimal,” kata mahasiswi asal Tangerang tersebut.

Dari hasil studi literatur yang dilakukan oleh tim, ternyata frekuensi kicauan burung yang dapat mempengaruhi pembukaan stomata tumbuhan berada di kisaran 3000-5000 Hz. Tim berinisiatif membuat alat yang dapat memancarkan frekuensi suara audiosonik yang frekuensinya setara dengan kicauan burung, khususnya burung kutilang.

Dimas, anggota tim mengatakan bahwa perangkat ini telah diuji coba di Laboratorium Biologi Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UB. Uji coba ini terkait dengan pengaruh frekuensi terhadap pembukaan stomata dan morfologi atau bentuk fisik tanaman padi. Morfologi yang diteliti terdiri dari akar, tinggi tanaman, dan jumlah bulir.

2016-09-24-1a

Dari hasil uji pembukaan stomata, didapatkan hasil pembukaan stomata meningkat hampir dua kali lipat. Yakni dari 3,839 mikrometer menjadi 5,8 mikrometer. Sedangkan dari uji morfologi, didapatkan tanaman padi dengan perlakuan pemberian suara kicauan burung, dapat tumbuh lebat dan akarnya bertambah panjang. Namun untuk tinggi tanaman padi tidak diperoleh hasil yang signifikan.

“Kesimpulannya sangat berpengaruh dan meningkatkan produktivitas. Tanaman padi yang dekat dengan perangkat dapat menghasilkan 27 bulir per tanaman, sedangkan yang jauh hanya menghasilkan 16 bulir per tanaman,” beber mahasiswa asli Malang itu.

Anggota tim lainnya, Syafi’udin, menjelaskan bahwa untuk sementara jangkauan efektif perangkat ini hanya berfungsi untuk jarak 5-7 meter. Untuk penerapan di lapangan, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Bahkan tim juga berencana untuk melakukan penelitian efek kicauan burung terhadap tanaman-tanaman lainnya seperti kentang, tomat, atau umbi-umbian.

“Biar efek yang diberikan jangkauannya lebih jauh, masih diteliti lebih lanjut. Untuk kualitas padi yang dihasilkan dari perlakuan juga harus diuji,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, “Tersimeniom” optimal digunakan di pagi hari dikarenakan temperatur yang masih rendah. Bila temperatur udara tinggi, stomata akan tertutup untuk mencegah penguapan zat hara yang berlebihan.

“Sesuai dengan teori pembukaan stomata, alat ini efektif digunakan pagi hari antara jam 08.00-10.00 dan di sore hari antara jam 15.00-17.00. Untuk diatas jam 10 dan menjelang sore hari dianjurkan agar alat dimatikan,” kata mahasiswa angkatan 2013 ini.

Dengan alat yang bersifat portabel ini diharapkan para petani mendapatkan kemudahan dari segi penggunaanya. Selain itu, kualitas dan kuantitas tanaman padi di Indonesia bisa meningkat sehingga dapat mengurangi impor beras dari luar negeri. (Diaz A/ Humas UB).

Artikel sebelumnyaAmnesti Pajak Diharap Dongkrak Penjualan Rumah
Artikel selanjutnyaReformasi Hukum, Benarkah Masih Jalan Di Tempat?