Guntur Raditya Wardhana, CEO Laxita Paramitha Group

Cerdas Melihat Peluang, Berani Mengeksekusi Ide

Guntur Raditya Wardhana, CEO Laxita Paramitha.

Memulai bisnis dari usaha event organizer (EO), Guntur Raditya Wardhana melebarkan sayap ke bisnis properti. Siapa sangka, bisnis yang dirintis dari kolong jembatan itu berkembang pesat. Dirintis 10 tahun silam, Laxita Paramitha Group kini telah memiliki 12 perusahaan. Bagaimana liku-likunya mencapai sukses?

Pada tahun 2007 dengan bermodalkan niat dan uang Rp100 ribu, Guntur Raditya Wardhana merintis usaha EO untuk pertama kalinya. Dengan dibantu beberapa teman kuliahnya, tak disangka, bisnis yang dirintis dari kolong jembatan Lempuyangan DI Yogyakarta itu, kini telah berkembang pesat hingga merambah bisnis properti.

Historis awal mula rintisan bisnis itu disampaikan oleh pria yang akrab disapa Radit, di tengah-tengah aktivitas bisnisnya di beberapa kota di Indonesia. Di pengujung November 2017 lalu, jurnalis radioidola.com, Heri C Santoso, melakukan wawancara di sela-sela sulung dari dua bersaudara itu melakukan rekaman di Studio Radio Idola 92.6 FM Semarang untuk program Bhinaya Channel, salah satu program terbarunya.

“Jika ada ungkapan memulai bisnis dari bawah kolong jembatan, maka saya melakukannya betul-betul secara harfiah, memulai dari bawah kolong jembatan,” kata Radit.

Radit bercerita, dirinya tidak memiliki cukup uang untuk menyewa kantor di saat awal memulai usahanya. Ia hanya memiliki uang sejumlah Rp100 ribu yang waktu itu diniatkan sebagai modal. “Modal itu kemudian saya putar, sehingga dalam 10 tahun, saya bisa memiliki apa yang ada saat ini,” ujar suami dari Fertilina Hardiyani itu.

blank
Guntur Raditya Wardhana, CEO Laxita Paramitha.

Dalam suasana yang akrab, Radit pun berbagi momen yang paling tak terlupakan dalam perjalanan karirnya. Berawal dari suatu dini hari menjelang akhir tahun 2007, ia sedang menempuh studi di UGM, di jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Malam itu sekitar pukul 01.00 dini hari, ia terbangun. Seperti layaknya orang yang terbangun di tengah malam, yang pertama kali dicari adalah air minum karena rasa haus yang teramat sangat.

“Namun saat itu air dalam galon telah habis, dan bahkan segelas air mineral pun saya tidak punya. Saya coba masuk ke rumah ibu indekos untuk mengambil air, namun ternyata dapur rumah beliau terkunci. Malam itu, saya tidak memiliki uang sepeser pun. Bensin motor telah habis, dan pulsa juga tidak lagi cukup untuk menelepon,” tutur pria yang memiliki hobi memancing itu.

Sebagai seorang anak yang paham betul bagaimana kesulitan ibunya dalam membiayai kuliah di Jogja, ia tidak berani untuk meminta uang dari ibunda di luar apa yang diberikan kepadanya. Sehingga, apa yang selama ini diberikan ibunya selalu dicukup-cukupkan. “Namun malam itu, ternyata uang saya tidak cukup untuk sekadar membeli minum,” kenangnya dengan suara tercekat.

Dalam kondisi haus itu, Radit menangis. Bukan menangis karena haus atau kesakitan, tapi lebih karena merasa nelangsa dan sedih. Namun dalam tangis itu ia menemukan tekad untuk melakukan sesuatu yang lebih. Dan kejadian malam itu menjadi titik balik dalam hidupnya.

Pada pagi harinya, ia menjadi pribadi yang lebih peka terhadap bukti kasih Allah kepadanya. Kejadian pertama yang dialami adalah tiba-tiba adiknya menelepon dari Semarang. “Diutus oleh Ibu saya untuk menanyakan keadaan saya. Dan Ibu mengirimkan sejumlah uang untuk saya pagi itu juga. Allahu Akbar,” tutur Radit dengan nada bergetar.

Uang yang dikirimkan oleh tersebut berjumlah sekitar Rp200 ribu. Uang tersebut dibagi dua. Senilai Rp100 ribu dilipat kecil dan diselipkan di dalam dompet. Sedangkan sisanya digunakan untuk biaya hidup.

“Rp100 ribu yang saya selipkan dalam dompet tersebut saya niatkan untuk saya jadikan modal bisnis. Tidak langsung saat itu saya berbisnis, karena saya harus menemukan bentuk bisnis yang tepat yang memungkinkan saya jalankan dengan modal kecil dan bisa saya kerjakan sambil kuliah,” ungkapnya.

Sekitar 2 bulan uang tersebut tidak tersentuh, dan ide bisnis belum juga ditemukan. Hingga pada suatu ketika ia mendapatkan ide bisnis pertama yang menurutnya paling masuk akal, yakni menyediakan jasa akomodasi bagi peserta UM UGM dari Semarang.

“Modal Rp100 ribu yang tadi saya simpan, saya bagi menjadi dua. Rp50 ribu saya gunakan untuk cetak selebaran dan fotocopy formulir pendaftaran. Sedangkan 50 ribu sisanya saya gunakan untuk mengajak teman-teman saya membantu saya dalam project ini, dengan cara mentraktir mereka di angkringan di kolong jembatan Lempuyangan,” katanya.

Project pertama Radit memberi hasil yang luar biasa. Sebanyak 82 orang peserta memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengurus akomodasi mereka dalam mengikuti UM UGM. Tercatat, Radit mendapatkan keuntungan bersih di atas Rp8 juta. “Selain itu, saya masih mendapatkan bonus: 1 orang peserta menjadi pacar saya, dan 1 orang peserta lainnya ternyata adalah wanita yang diciptakan Allah untuk saya dan menjadi istri saya,” kenang Radit dengan tersenyum. Wanita yang dimaksud radit adalah Fertilina Hardiyani.

Bisnis mengurus jasa akomodasi mahasiswa rupanya tak bertahan lama, hanya setahun. Sebab UGM sudah membuka ujian masuk di Semarang. Berbekal keuntungan yang sangat besar untuk ukuran saat itu, ia mengajak Thedy, teman yang sangat dipercaya sejak pertama kali memulai bisnis. Mereka sepakat membentuk bisnis event organizer dengan bendera DIGE.

“Kenapa EO? Karena kami berasumsi pekerjaan EO sifatnya insidental dan bisa kami kerjakan sambil kuliah. Selain itu, juga tidak memerlukan banyak biaya,” kata pria kelahiran Semarang, 17 Juni 1987 itu berkisah.

Singkat cerita, event pertama ini berjalan dengan sangat baik. Event pertamanya ini adalah event dari sebuah perusahaan farmasi besar, yang kemudian menjadi klien loyal lebih dari 8 tahun, dengan nilai hanya Rp600 ribu. Keuntungan yang ia dapatkan kurang dari Rp100 ribu dan masih dipotong pajak dan ditodong traktir oleh kliennya.

Ia mengambil pekerjaan tersebut padahal jelas-jelas nilainya tidak “worth it” karena Radit adalah orang yang sangat percaya pada kesempatan. Ia meyakini walau nilainya kecil, event tersebut dapat menjadi ajang pembuktian bahwa dirinya mampu mengerjakan hal yang lebih besar.

“Dan Alhamdulillah, perkiraan saya betul. Event tersebut menjadi awal masuknya event-event lain yang lebih besar bagi kami. Hingga saat ini, dari klien pertama kami tersebut, kami telah dipercaya menangani seluruh brand utama mereka. Bahkan, saya dipercaya pula untuk menangani sebuah brand tetes mata ketika baru mereka akuisisi dari perusahaan farmasi lain,” ujar ayah dari putri kembar: Kidung Prashanti Wardhani dan Kirana Prashanti Wardhani.

1. Pantang Berkata Tidak Pada Klien

Perkembangan bisnisnya membuat Radit harus memindahkan kantornya dari Semarang ke Jakarta pada 2010. Kemudian, tahun 2014, DIGE pun rebranding menjadi Bhinaya. Sejak pindah ke Jakarta, Bhinaya pun banyak dipercaya menangani proyek yang sifatnya nasional.

Bisnis yang dibangun Radit tak hanya EO. Ia mulai mengembangkan bisnisnya menjadi agensi marketing komunikasi yang menawarkan One Stop Solution sebagai added value-nya. Berawal dari EO kemudian berkembang menjadi One Stop Solution yang menawarkan jasa pembesutan Above the Line (ATL) dan Bellow the Line (BTL).

“Dari EO, kami telah bertransformasi menjadi Agency Marcomm yang bidang layanannya lebih luas. Jumlah karyawan kami pun terbilang cukup banyak saat itu. Mencapai lebih dari 20 orang. Pun, kami berhasil mendapatkan kepercayaan dari belasan perusahaan farmasi, consumer goods, dan lembaga pemerintah untuk mengelola event dan marcomm strategic mereka,” jelasnya.

Salah satu keberhasilan atas kemajuan bisnis tersebut adalah berkat komitmen, kerja tim, dan selalu menjaga kepercayaan kliennya. Menurutnya, dalam membentuk tim kerja, karyawan yang keseluruhannya adalah anak muda harus diberikan motivasi untuk selalu berkembang dan out of the box, agar apa yang dikerjakan dapat menghasilkan karya yang berbeda dengan yang lainnya.

Mengenai konsep marketing, salah satu hal yang dijunjung tinggi oleh Radit dan tim kerjanya adalah kooperatif. Radit mengemukakan, ada strategi jitu yang membuat bisnisnya sukses. Pertama, mendengarkan klien dengan cara menerjemahkan keinginan mereka lewat konsep dan eksekusi yang tepat. Kedua, pantang mengatakan tidak bisa kepada klien, kecuali dengan alasan yang kuat. Ketiga, kekompakan tim yang terdiri dari anak-anak muda.

“Untuk menjawab kepercayaan itu, pantang kami berkata tidak bisa. Kami selalu mengiyakan apa keinginan klien. Kalaupun berat, kami mengajak diskusi pada klien sehingga kemudian ada solusi bersama,” ujarnya.

2. Tak Ada Competitor Dalam Berbisnis

Kecerdasan Radit, tak hanya mampu membesarkan Bhinaya. Ia juga melihat peluang yang tak dilihat pengusaha lain. Ketika industri properti di Tanah Air tengah lesu, Radit justru mendekatinya. Pada tahun 2014, ia melihat ada peluang di bisnis properti.

“Ternyata, keputusan saya tepat karena billing klien properti jauh lebih besar dibandingkan FMCG (Fast Moving Consumer Goods) maupun farmasi. Klien properti inilah yang membuat revenue kami juga meningkat sangat signifikan,” ujarnya.

Menjalankan sebuah usaha atau bisnis sangat wajar jika seorang pebisnis bertemu dengan persaingan. Namun tidak sedikit yang akhirnya menyerah saat bertemu sebuah persaingan. Bagi Radit, tak ada kamus menyerah pada pesaing. Sebab, menurutnya, tak ada kompetisi dalam berbisnis.

“Saya menyadari sepenuhnya bahwa segala yang terjadi dalam hidup saya bukanlah kebetulan. Karena bagi saya, Tuhan saya telah mengatur semuanya termasuk rezeki dalam berbisnis,” ujarnya.

Perjalanan hidup mengajarkan Radit bahwa yang bisa dilakukan adalah berproses dengan benar. Karena hasil merupakan hak Allah. Seberapapun keras berusaha, jika ternyata Allah tidak berkehendak, menurut Radit, maka tidak akan terjadi. Namun justru ketika sudah di titik pasrah, dan hanya berfokus ke proses, maka disitulah jalan dari Allah mulai terbuka.

“Saya selalu bersyukur. Rezeki sudah ada yang ngatur. Dan, efeknya luar biasa. Keuntungan justru berkali-kali lipat,” ungkapnya.

3. Berkah Pulang Kampung Ke Semarang

Sosok Radit bisa dikatakan cerdas melihat peluang dan berani mengeksekusi ide. Sukses membesarkan klien properti membuat Radit kepincut untuk memasuki bisnis properti. Hal itu bermula dari dirinya yang meski meninggalkan Jakarta dan pulang kampung ke Semarang. Radit bercerita, atas pertimbangan agar lebih dekat dengan keluarga dan lebih intens membesarkan putri kembarnya, dirinya memutuskan pulang kampung ke Semarang. Ia pun memindahkan perusahaannya ke Semarang.

Tak disangka, ternyata pulang ke Semarang ini justru menjadi titik tolak baginya untuk melompat lebih tinggi lagi. Ia melihat peluang yang baik di Semarang di bidang properti. Karena belum ada satupun agency marcomm yang memiliki layanan selengkap miliknya.

Maka, Radit mengarahkan agency-nya menjadi agency yang fokus mengerjakan marcomm bagi developer di Semarang. Kebetulan, pihaknya telah beberapa kali mengerjakan project marcomm untuk beberapa klien kami sebelumnya di Jakarta.

“Hasilnya cukup menggembirakan, karena hampir seluruh project property besar di Semarang telah menggunakan jasa kami. Dan bonusnya, saya melihat ada peluang yang sangat besar di bidang properti. Bukan lagi sebagai agency marcomm, tapi sebagai developer,” jelasnya.

Radit menuturkan, ia melihat potensi yang luar biasa dari perkembangan Kota Semarang dalam 3-5 tahun ke depan, berkaitan dengan berkembangnya kawasan industri di sekitar Kota Semarang. Sehingga, ia yakin dalam beberapa tahun ke depan, sektor properti akan booming dan memberikan keuntungan yang menjanjikan.

Bagi Radit, pekerjaan sebagai developer sebenarnya bukan suatu hal yang asing. Karena sebagai penyedia jasa integrated marcomm agency, selama ini lebih banyak bertindak sebagai “developer bayangan” yang mengerjakan seluruh pekerjaan developer, mulai dari tehnik, perencanaan, marketing, sales, bahkan hingga perizinan. “Sehingga, sebenarnya di awal-awal masa kami kembali ke Semarang, perusahaan kami sedang bertransformasi menjadi perusahaan developer properti. Maka, kami tekadkan untuk memulai proyek properti milik kami sendiri,” tandasnya.

Mengusung brand The Akavia, radit pun resmi membangun bisnis baru di bidang properti. Sebagai pilot project, radit meluncurkan proyek awal The Akavia di Kota Semarang melalui PT Cita Kayana Semesta sebagai developer-nya. PT Cita Kayana Semesta merupakan salah satu anak perusahaan dibawah Laxita Paramitha Group. Nantinya, proyek tersebut akan hadir di kota-kota lain di Indonesia. Peluncuran telah dilakukan pada Desember 2016 lalu.

Akavia Mansion terletak di kawasan superblok Akavia Lifemark Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah. Apartemen premium itu diklaim mengusung nuansa berbeda dengan menerapkan sistem lelang untuk memasarkan unit-unitnya. Menurutnya, Superblok Akavia Lifemark diprediksi menjadi ikon baru di Semarang bagian barat. Superblok Akavia Lifemark berlokasi tepat di depan pintu keluar pertama Tol Trans Jawa (Semarang-Batang), yang akan selesai pengerjaannya pada 2018 dan menjadi gerbang masuk pertama menuju Kota Semarang.

4. Usung Filosofi Kebermanfaatan

Dalam menjalankan bisnis, Radit mengusung tema besar azas kebermanfaatan. Ia ingin membangun perusahaan yang menciptakan kemanfaatan bagi banyak orang. Ia pun menyampaikan hal itu kepada tim kerjanya. Bekerja di perusahaannya merupakan salah satu sarana beribadah kepada Tuhan YME. Sehingga, spiritnya layanan yang diberikan sepenuhnya demi memberi manfaat bagi orang lain.

Segala upaya Radit telah mengantarkan pada capaian yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Di tengah mengelola bisnis di Semarang, ia juga memiliki team operasional mandiri di Jakarta. Bisnis berkembang pesat jauh lebih dari yang bisa saya bayangkan sebelumnya. Ia kini sedang menyiapkan 8 proyek properti lain di Semarang, Bandung, Balikpapan, Banjarmasin, dan Jogjakarta, yang sebagian besar akan mulai di launching awal tahun 2018.

“10 tahun terakhir dalam hidup saya adalah masa yang penuh dengan keajaiban. Hampir setiap saat saya membuktikan sendiri kasih sayang-Nya dan janji-janji-Nya,” ujarnya. Hal itu membuat Radit tak memiliki goals tertentu dalam bisnisnya. Ia hanya mengalir namun tetap melihat peluang dan mengoptimalkan segala upaya serta kerja tim dalam mengelola perusahaannya.

Menurut Radit, selama niat kita benar, dan kita berproses dengan benar, maka atas izin Allah, akan membukakan jalan bagi kita. “Walaupun tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita, yakinlah, apapun jalan itu, selama kita yakin itu jalan yang Allah pilihkan untuk kita, maka itu adalah yang terbaik kita,” ujar Radit berpesan pada pembaca. (Heri C Santoso)

5. Biodata

Nama: Guntur Raditya Wardhana, S.IP.
Tempat/Tgl Lahir: Semarang 17 juni 1987.
Jabatan: CEO Laxita Paramitha Group.
Alamat Kantor: Gedung Menara Suara Merdeka lantai 12 Jl Pandanaran Semarang.
Istri: Fertilina Hardiyani, S.Ikom
Anak: Kidung Prashanti Wardhani & Kirana Prashanti Wardhani.

Pendidikan:

  • TK Hj. Isriati Semarang.
  • SDN Sompok 3 Semarang.
  • SD Islam Hidayatullah Semarang.
  • SMP 5 Semarang.
  • SMA 3 Semarang.
  • UGM Fakultas ISIPOL UGM Jurusan Ilmu Hubungan Internasional.

Beberapa perusahaan yang dikelola antara lain:

  • PT Bhinaya Laxita Paramitha.
  • PT Bhinaya Laxita Kreativa Indonesia.
  • PT Kinarya Laxita Paramitha.
  • PT Perjalanan Ibadah Indonesia.
  • PT Kayana Semesta Group.
  • PT Cita Kayana Semesta.
  • PT Cita Kayana Mandiri.
  • PT Lestari Kayana Semesta.
  • PT Kinarya Kayana Semesta.
  • PT Mustika Surya Buana.
  • Bhinaya Laxita Publishing (dalam proses).
  • Bhinaya Laxita Media (dalam proses).

Visi Dan Misi Hidup:

Menciptakan perusahaan yang menciptakan kemanfaatan bagi banyak orang.

Artikel sebelumnyaKampung Kranggan Dalam Menjadi Kampung Bright Gas Pertama di Semarang
Artikel selanjutnyaPeran Indonesia di Pusaran Konflik Yerusalem Yang Makin Menyulut Api Dunia

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini