Bagaimana Membiakkan Tradisi Berpikir Kritis di Tengah Masyarakat Dogmatis

Semarang, Idola 92.6 FM – Pada kurun 500 tahun SM silam, filsuf terkemuka Yunani Plato menulis sebuah alegori mengenai manusia yang tinggal di dalam goa. Salah satu pemikiran murid Socrates itu yakni “allegory of the cave” atau Alegori Gua. The Allegory of the Cave berisi tentang persepsi dan realitas manusia. Plato menyatakan bahwa pengalaman yang diperoleh melalui indra tidak lebih dari ide ide belaka sehingga dalam rangka untuk memiliki pengetahuan yang sesungguhnya, kita harus mendapatkannya melalui penalaran filosofis. Dalam bahasa yang sederhana, berpikir kritis.

Kini, upaya berpikir filosofis dan kritis itu, mencoba dipraktikkan kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Baru-baru ini dalam upaya pengembangan tradisi berpikir kritis, UKSW membentuk Pusat Pengembangan Pemikiran Kritis. Universitas memandang tradisi berpikir kritis ini sangat penting dan harus dikembangkan. Ke depan, mereka juga tengah menyiapkan kurikulum baru yang menjadikan critical thinking sebagai salah satu matakuliah fondasi bagi semua program studi. Bentuk yang lain, Rocky Gerung bersama beberapa pegiat HAM juga merilis “Maklumat Akal Sehat di Menteng Jakarta Rabu (25/4/2018).

Fenomena membiakkan kembali tradisi berpikir kritis ini menarik ketika kita saat ini tengah hidup di tengah masyarakat dogmatis, paternalistik, dan pragmatis. Hal ini relevan karena kita kini seolah tengah berada di antara manusia-manusia goa -meminjam istilah Plato- dimana hal itu ditandai dengan mudahnya masyarakat terpolarisasi dan mudah menghakimi atas nama kebenaran ego pribadi.

Di sisi lain, UUD 1945 bukankah juga mengamanatkan Negara kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, sungguh merupakan keganjilan, apabila di dalam suatu negara demokratis yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, pikiran, argumen, dan kritik justru dipatahkan oleh klaim-klaim komunalitas dan tangan aparat negara.

Lantas, mungkinkah menangkarkan budaya berpikir kritis di tengah masyarakat kita yang dogmatis dan paternalistik? Apa tantangan terbesar kita saat ini untuk kembali membiakkan budaya berpikir kritis?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan: Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Dr Neil Rupidara dan Ahli filsafat dan Budayawan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Saifur Rohman. [Heri CS]

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaBagaimana Memitigasi Ancaman Puting Beliung
Artikel selanjutnyaTak Penuhi Syarat Minimal, KPU Jateng Coret 2 Pendaftar DPD