Mengikat Emosi Konsumen adalah Kunci

Idola Business Gathering, event bulanan yang digelar Radio Idola Semarang.

Semarang, Idola 92.6 FM – Differentiate di era revolusi industry 4.0 saat ini menjadi kunci berbisnis. Namun, tanpa disertai dengan kreativitas untuk mengikat emosional konsumen maka lambat laun akan ditinggalkan konsumen. Ibaratnya, mengikat emosional konsumen pada produk adalah kunci bisnis bisa eksis dan tumbuh.

Demikian dikemukakan CEO Laxita Kayana Corp Guntur Raditya Wardana dalam acara Idola Business Gathering yang diselenggarakan Radio Idola Semarang bekerjasama dengan Patra Semarang Hotel & Convention , IMA Chapter Semarang dan KPP Pratama Gayamsari di Patra Semarang Hotel & Convention, Jumat (19/10/2018).

Selain Raditya, dalam acara diskusi bertama “Differentiate or Die” itu hadir pula beberapa narasumber, yakni: Maxim Mulyadi (Presiden IMA Chapter Semarang), dan Musthofa (Owner BPR Agung Sejahtera). Sebagai pemandu diskusi, penyiar Radio Idola Semarang, Nadia Ardiwinata.

Menurut Raditya, pada dasarnya apapun yang kita jual saat ini, sebenarnya sudah banyak padanannya. Kalau kita ingin bertahan dan konsumen tetap memilih produk kita, maka satu yang paling penting yakni belajar melihat dari sisi konsumen. “Karena mau sebagus apapun, semurah apapun, sehebat apapun produk kita, kalau konsumen tak suka maka takan akan mau beli,” ujar Raditya di hadapan puluhan peserta.

Raditya menuturkan, diferensiasi tidak hanya masalah packaging, bukan masalah harga, dan bukan masalah kualitas. Tapi bagaimana kita membangun emotional bonding kepada konsumen. “Sehingga, konsumen tidak lagi melihat packaging, tidak melihat lagi harga, tapi memiliki ikatan dengan brand yang kita miliki. Kuncinya, lihat dari sisi konsumen,” ujar pengusaha kelahiran Semarang, 17 Juni 1987.

Guntur Raditya Wardana, CEO Laxita Kayana Corp.

Ia menambahkan, saat ini bagi pebisnis kalau tak memiliki keunikan yang berbeda dengan yang lain, maka akan mati. Masalahnya, bagaimana kita bisa memahami apa yang dibutuhkan konsumen. Terkadang, banyak yang over confidence dengan produknya tak mau melihat dari sisi konsumen.

“Padahal, kuncinya untuk mendapatkan diferensiasi yang baik untuk produk kita adalah melihat kebutuhan dari sisi konsumen,” tuturnya.

Raditya yang juga CEO PT Cita Kayana Semesta, pengembang Apartemen Akavia Lifemark di Kota Semarang mencontohkan, di Kota Semarang banyak sekali apartemen—tanpa bermaksud menjelekan yang lain. Tapi hampir semuanya kemudian tak ditinggali karena tak nyaman sebab sempit. Diferensiasi yang dibangun ketika membangun apartemen Akavia Lifemark adalah nyaman ditinggali karena lebih luas daripada apartemen lain.

“Diferensiasi kami adalah kami sama-sama membangun apartemen, sama kuatnya, fasilitasnya sebelas dua belas tapi tempat kami nyaman ditinggali karena lebih luas. Itu diferensiasi yang kami bangun,” tuturnya.

Temukan “Why” dalam Produk Bisnis

Maxim Mulyadi, CEO CV Tirta Makmur.

Sementara itu, Maxim Mulyadi menambahkan, agar bisnis bisa berkelanjutan dimulai dari melakukan apa yang kita cintai. Sebab, tanpa mencintainya kita tak akan enjoy selama menjalani bisnis tersebut. “Temukan mengapa-nya atau why, dari itu akan bermuara banyak hal,” ujar owner air mineral kemasan “Pelangi”.

Ia mencontohkan, melalui produk air mineral kemasan “Pelangi” secara desain perusahaan, kita tidak hanya ingin menjadi perusahaan yang berkinerja baik dan meraih untung besar. Di sisi lain, kita juga mempunyai tujuan yang baik yakni dengan spirit cinta kita untuk dunia yang lebih baik. Ibaratnya, menyemaikan cinta nomor pertama, jualan air mineral nomor kedua.

“Dalam hal ini, Pelangi dengan “cinta”. Dalam perjalanan teman-teman UKM yang sedang merintis usaha, carilah mengapa Anda melakukan itu. Temukan find you way. Temukan mengapanya. Dari situ akan tumbuh banyak hal,” ujarnya yang melansir prinsip bisnis Amazon.com yakni is the Customer.

DR H Mustofa, Owner BPR Agung Sejahtera.

Musthofa menambahkan, tuntutan konsumen adalah sebuah perubahan. Siapa yang tidak mau berubah dan tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumen pasti akan mati. “Sebab, di dunia ini yang abadi adalah perubahan,” tutur bupati Kudus dua periode ini.

Kita adalah Modal Terbesar!

Sementara, jurnalis senior Radio Idola Semarang Andi Odang menyampaikan, Harvard Business Review mengeluarkan hasil riset terkait seberapa tertarik orang membeli sebuah produk–berdasarkan atas pertimbangan logis atau emosional? Hasilnya, yang mempertimbangkan orang membeli sesuatu karena pertimbangan logis 16 % dan sebanyak 84 % karena pertimbangan emosional.

“Jadi, yang ingin saya katakan, buatlah, lakukanlah upaya, untuk meng-attrack, menarik dari sisi emosional pelanggan Anda. BPR misalnya, dalam bayangan saya, bisa mengerti pendidikan putra-putri Anda. Itu lebih bersahabat,” ujarnya.

Andi Odang, jurnalis senior Radio Idola Semarang.

Sejak penemuan hasil riset itu, dunia perdagangan dan bisnis mulai diarahkan untuk menarik emosi. Jadi kalau bapak ibu bikin proposal jangan terlalu logis. Bikinlah yang emosional.

Kedua, merujuk pada perusahaan teknologi terbesar di dunia Amazon.com milik Jeffrey Preston Bezos yang memiliki spirit customer centris. Menurut Andi Odang, Jeff Bezos belajar pada pengusaha eksentrik (alm) Bob Sadino pemilik Kemchick.

“Saya pernah menanyakan, gimana dulu idenya menemukan Kemchick? Intinya, dia bilang, Andy aku mulai jualan telur. Orang mulai beli karena dia suka aku, bukan karena suka ama telurnya. Tetapi dari mulai suka aku, orang apa-apa tanya aku. Di sini banyak orang ekspatriat. Mereka nyari driver tanya aku. Nyari rumah kontrakan tanya aku. Mau pindah luar negeri tanya aku.”

Andi melanjutkan, “Bapak Ibu, perlu diketahui, kalau orang masuk Kemchick, orang selalu nanya, Om Bob mana? Om Bob Mana? Dia sudah seperti bintang film. Yang ingin saya katakan, modal terbesar adalah Anda. Adalah kita. Kitalah modal terbesar!. Itu yang ingin saya underline,” tandas direktur utama Radio Idola Semarang ini. (her)

Artikel sebelumnyaReaktivasi Jalur Rel Kereta Api Dipandang Paling Solutif Dari Semarang ke Yogya
Artikel selanjutnyaJokowi Tegaskan Komitmennya Bangun Ponpes dan Infrastruktur