Semarang Berpotensi Menjadi Masa Depan Perekonomian Pulau Jawa

Semarang, Idola 92.6 FM – Kota Semarang berpotensi menjadi masa depan perekonomian Pulau Jawa. Bukan Bandung atau Surabaya. Hal itu karena banyak potensi yang dimiliki Kota Semarang dan tidak dimiliki kota lain.

Demikian dikemukakan pengusaha muda yang juga CEO PT Laxita Paramitha Group Guntur Raditya Wardhana dalam diskusi Semarang Trending Topic – Membangun Indonesia Lebih Baik bertema “Semarang Sekarang, Dalam Ease of Doing Business”, Kamis (26/4/2018), di Patra Hotel & Convention Semarang.

Selain Raditya, dalam acara yang digelar Radio Idola Semarang bekerjasama dengan Pemkot Semarang dan Akavia Lifemark itu, hadir narasumber: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesra Pemkot Semarang Ayu Entys, dan ekonom Unika Soegijapranata Angelina Ika Rahutami. Acara dipandu moderator Nadia Ardiwinata.

Menurut Radit, masa depan Pulau Jawa bukan lagi di Jakarta atau Surabaya tapi Semarang. Sehingga, sudah waktunya pengusaha pindah ke Kota Semarang. Kenapa seperti itu, menurut Radit, karena ketimpangan UMK di Jakarta dan Surabaya tinggi sekali. Sehingga otomatis, industri banyak bergeser ke Semarang. “Masalahnya, ketika industri berniat ke sini apakah pemerintahnya sudah siap untuk menangkapnya?” ujarnya.

Guntur Raditya Wardhana, CEO PT Laxita Paramitha Group.

Radit mengemukakan, kalau pemerintah siap untuk menangkap, ia yakin dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, Semarang akan menyamai Jakarta dan Surabaya. Ini potensi keuntungan luar bisa yang bisa diperoleh pengusaha tapi harus sinergi dengan pemerintah. “Pemerintah harus menjamin kemudahan berbisnis, perizinan, dan ketersediaan infrastruktur dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dia menyatakan, saat ini banyak kemudahan ketika mengurus bisnis di Kota Semarang. Ia mengaku, pertama berbisnis di Kota Semarang kaget. Sebelumnya biasa berbisnis di Jogja dan Jakarta yang cenderung cukup panjang proses perizinannya. “Di Semarang gampang banget,” ujar

Ia mencontohkan, pengajuan IMB 6 bulan sudah selesai biasanya jika developer bisa sampai 1 hingga 2 tahun. Kemudian, urus surat-surat penebangan pohon, penyambungan jalan masuk dan sebagainya. “KRK gak nyampai 2 minggu kelar. Komitmen Pak Wali (Hendrar Prihadi-red) luar biasa. Yang terjadi di Semarang sekarang ini kemudahan-kemudahan itu sangat terasa. Dalam ease of doing business jauh lebih mudah daripada kota-kota lain,” tuturnya.

Wujudkan Kebersamaan, Semarang Terus Berbenah

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan, Pemkot terus mencoba menarik investasi dengan cara memperbaiki kondisi. Mulai dari percepatan perizinan hingga menjamin kepastian hukum. “Itu kita jadikan komitmen dalam melayani investor. Alhamdulillah, semakin hari semakin banyak investor yang masuk ke kota Semarang,” kata Hendi melalui sambungan telepon.

Kota Semarang seolah tengah memanen hasil kerja keras pemimpinnya. Saat berbicara, wali kota tengah berada di Jakarta untuk menerima dua penghargaan dari pemerintah pusat. Pertama, penghargaan dari Kemendagri yang menetapkan Pemerintah Kota Semarang di bawah kepemimpinan Hendi sebagai pemerintah daerah dengan kinerja tertinggi di Indonesia. Kedua, penghargaan dari Kementerian Kesehatan sebagai Pelayanan Kesehatan yang Paling Inovatif.

Menurut Hendi, jika dilihat dari catatan statistik, investasi di kota Semarang rata-rata setiap tahun mencapai Rp17 triliun hingga Rp20 triliun. Pergerakan luar biasa, sebelum 2010 masih di bawah Rp1 triliun. “Kita bisa lihat Hotel makin banyak, restoran semakin tumbuh, kawasan perdagangan yang tunjang pariwisata yang semakin berkembang. Ini tidak bisa kita pungkiri ada di Kota Semarang,” ujarnya.

Menyongsong Hari Jadi ke-471 Kota Semarang, Hendi mencoba wujudkan kebersamaan, keguyuban dan kekompakan. Jika hal itu berhasil maka dampaknya peningkatan kinerja dalam berbagai hal. Ia yakin konsep membangun kota Semarang ke depan masih dalam pola bergerak bersama. Tak hanya pemerintah saja, tapi mesti bersama warga kota.

“Saya berharap pada semua warga, mungkin sudah banyak yang kita lakukan untuk Kota Semarang. Tapi saya rasa masih banyak yang mesti kita tuntaskan dan membutuhkan banyak tangan lagi dari para warga,” ujarnya.

Angelina Ika Rahutami, Ekonom Unika Soegijapranata.

Ekonom Angelina Ika Rahutami, menuturkan, ada 2 aspek yang mesti dilihat kalau berbicara ease of doing business dari World Bank ada 2 aspek yang mesti dilihat. Pertama, ranking dan kedua, distance to frontier. Saat ini Indonesia rangkingnya naik, dari 91 ke 72. Tapi kita masih kalah jauh dengan sesama negara ASEAN. Misalnya, Singapura di rangking ke-2 dan Vietnam ke-68.

“Ease of doing business-nya tidak serta merta ketika suatu negara itu sudah mencapai perekonomian pada level sekian dari produk domestik bruto (PDB) langsung ease of doing business-nya bagus. Ternyata tidak. Karena, Vietnam negara terbelakang, miliki rangking lebih bagus dari kita.”

Menurut Ika, Kota Semarang dalam 3 tahun terakhir langkahnya sangat hebat. Indikatornya, tahun lalu, Semarang memperoleh penghargaan sebagai kota paling atraktif, inovatif dan infrastruktur terbaik. Ini modal dasar yang kuat. Apalagi kita sudah mulai mereduksi aturan yang menghambat bisnis. “Nah, sekarang, tinggal di lapangan apakah sudah seperti itu atau tidak?” ujarnya.

Ayu Entys

Sementara itu, menurut Ayu Entys, Kota Semarang itu unik mulai dari tipografi hingga perilaku masyarakatnya. Laju pertumbuhan ekonomi dalam 5 tahun terakhir memang sempat turun pada posisi terendah pada tahun 2015. Meksipun turun tapi tetap di atas Jawa Tengah dan Indonesia. “Pertemuan hari ini semoga menjadi semangat para pengusaha di Semarang,” ujarnya.

Saat itu, capaian pada 2016 dan 2017 mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Posisi laju pertumbuhan ekonomi hari ini mencapai 5,81. Angka tersebut lebih baik dibanding Provinsi Jawa Tengah sebesar 5,21 dan nasional 5,07. “Artinya, apa yang disampaikan pengusaha, ini sebagai indikator kami untuk mengeluarkan kebijakan,” tandasnya.

Ia menginformasikan investasi yang masuk di Kota Semarang saat ini hampir Rp30 triliun padahal sebelum tahun 2010 masih di bawah Rp1 triliun. Ini membuktikan bahwa laju pertumbuhan perekonomian di Kota Semarang terus tumbuh berkembang. (her)

Artikel sebelumnya[PhotoEvent] Semarang Trending Topic April 2018
Artikel selanjutnyaDinilai Belum Siap, DPR RI Minta Operasional Bandara Ahmad Yani Ditunda