Bagaimana Mengatasi Problem Stunting di Tengah Menyongsong Puncak Bonus Demografi?

Semarang, Idola 92.6 FM – Saat ini, kita sedang berada pada era dimana perubahan dan perkembangan teknologi yang terjadi begitu melesat. Inovasi teknologi mutakhir mendisrupsi pelaku-pelaku lama (incumbent). Era di mana kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) tengah menjadi ancaman baru yang akan menggantikan otak dan tenaga manusia.

Merespons era Great Shifting yang ditandai dengan pergeseran pola konsumsi masyarakat secara besar-besaran itu narasi-narasi besar pun dibangun. Mulai dari menyiapkan skil dan kompetensi generasi milenial untuk menyongsong Puncak Bonus Demograsi 2020-2030, revolui industry 4.0 hingga menyambut Indonesia Emas pada 2045.

Namun, di sisi lain, kita seperti sedang menyimpan bara dalam sekam—bak menyimpan bom waktu. Dan, ini sangat paradoks. Kita menghadapi problem stunting atau kondisi tubuh pendek akibat kurang gizi kronis. Ancaman stunting sesungguhnya bukan main-main. Ia seperti halnya narkoba. Jika tak diatasi kita akan terancan kehilangan satu generasi atau lost generation. Apa artinya berpikir canggih-canggih tapi ternyata banyak anak-anak kita yang masih mengalami kurang gizi?

Kita jadi bertanya-tanya, begitu urgennya persoalan ini, namun kenapa seolah penanganannya masih setengah-setengah? Persoalan ini dianggap kebetulan atau memang sengaja dipinggirkan karena memasuki agenda tahun politik? Padahal, UUD 1945 mengamanatkan agar negara melindungi segenap tumpah darah Indonesia.

Diketahui, pencegahan stunting belum terpusat pada suatu masalah oleh multisektor kepentingan. Itu mengakibatkan penanganan soal gizi itu tak berdampak signifikan. Untuk itu, perlu perubahan sistematis dan terukur dari semua pihak.

Lantas, di tengah kita menyongsong Puncak Bonus Demografi 2020-2030, bagaimana mengatasi problem stunting? Bagaimana mestinya pemerintah mengatasi problem ini? Isu stunting yang masih belum diprioritaskan—ini cuma kebetulan atau memang dipinggirkan?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Doddy Izwardy (Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI) dan Prof Satryo Soemantri Brodjonegoro (Direktur SDM dan Pengembangan Kapasitas Pada Komite Percepatan Pernyediaan Infrastruktur Prioritas). (Heri CS)

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaAtasi Biaya Kargo Pesawat Mahal, Ganjar Coba Kerja Sama Dengan TNI Kirim Komoditas Pertanian ke Luar Pulau Jawa
Artikel selanjutnyaMenakar Efektivitas Pembangunan Infrastruktur, Sudahkah Mampu Menjadi Daya Ungkit Ekonomi?
Editor In Chief Radio Idola Semarang.