Banjir Bandang di Sentani Papua Telah Terprediksi, Kenapa Masih Saja Terjadi? Kenapa Kita Tak bisa Mencegahnya?

Semarang, Idola 92.6 FM – Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Distrik Sentani Kabupaten Jayapura Papua Minggu (17/03/2018) dini hari telah memiliki jejak sebelumnya. Dan, ini bukan kali ini saja terjadi.

Merujuk Kompas (18/03/2019), tahun 2013, longsor di jalur Pegunungan Cycloop menewaskan seorang warga sedangkan permukaan air Danau Sentani saat itu merendam sejumlah perkampungan hingga setinggi 50 centimeter. Selain itu, ruas jalan penghubung Sentani-Jayapura terutama di ruas Hawai juga tergenang air. Air mengalir deras dari arah Pegunungan Cycloop yang sebagian di antaranya bersisian dengan jalan penghubung dari arah Bandara Sentani menuju Kota Jayapura.

Lima tahun setelah peristiwa itu, penggundulan hutan dan alih fungsi lahan Cagar Alam Cycloop yang berdampak nyata it uterus terjadi. Padahal, sudah ada patroli pengawasanmenyusul terbitnya peraturan daerah yang melindungi kawasan itu. Hingga kemudian, pada Minggu dinihari lalu, banjir bandang terjadi dan menyapu kawasan permukiman termasuk Lapangan terbang Adventist Doyo Sentani yang menyeret pesawat Twin Otter dan helicopter BNPB. Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua sudah mencapai 79 jiwa. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa bertambah karena saat ini tercatat 43 orang masih hilang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan ada 9 kelurahan terdampak akibat bencana. Tiga kecamatan diantaranya terdampak paling parah.”Dari 9 kelurahan ini, yang paling parah ada di Kelurahan Dobonsolo, Doyo Baru, dan Hinekombe. Jadi korban yang paling banyak di tiga kelurahan ini,” kata Sutopo dalam jumpa pers di Grha BNPB, Jakarta, Senin (18/3).

Dalam musibah ini, tercatat ada 74 orang terluka, 4.226 orang mengungsi, dan 11.725 keluarga yang terdampak. Kerugian material pun tak kalah besar. Setidaknya ada 350 unit rumah rusak berat, 211 unit rumah terendam air, 8 unit sekolah rusak berat, 3 jembatan rusak berat, dan 1 unit pesawat Twin Otter rusak.

Lantas, kita berduka atas musibah bencana banjir bandang yang menimpa saudara-saudara kita di Sentani papua. Terkini, jumlah korban meninggal dunia mencapai 79 jiwa. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa bertambah karena saat ini tercatat 43 orang masih hilang. Apa yang terjadi hingga banjir bandang bisa menelan begitu banyak korban jiwa? Menurut catatan BNPB, banjir bandang yang menerjang Distrik Sentani Jayapura telah terprediksi sebelumnya. Dan, ini bukan kali ini saja terjadi.

Lantas, kenapa masih saja terjadi dan kenapa kita tak bisa mencegahnya? Berkaca pada tragedy ini, bagaimana mestinya ke depan, kebijakan strategis agar hal ini tak terjadi di kemudian hari? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang mewawancara Direktur eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan M. Teguh Surya. (Heri CS)

Berikut wawancaranya:

Artikel sebelumnyaPeduli Sampah, BI Bangun Kompleks Pengolahan Sampah Terpadu di Dieng
Artikel selanjutnyaPolitisi Korupsi, Bagaimana Jalan Keluar Mengatasi Politik Berbiaya Tinggi?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini