Jateng Serius Atasi Stunting Agar Bisa Turun di Bawah 20 Persen

Ilustrasi Stunting

Semarang, Idola 92.6 FM – Angka prevalensi stunting yang ada di Jawa Tengah masih tergolong tinggi, yaitu di angka 34,3 persen di atas angka prevalensi nasional hanya 30,8 persen saja. Sehingga, Pemprov Jawa Tengah mengupayakan percepatan pencegahan stunting dengan pengurangan angka prevalensi di bawah 20 persen.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jateng Wahyu Setianingsih mengatakan sesuai dengan data dari badan kesehatan dunia (WHO), angka stunting dengan prevalensi di atas 20 persen merupakan persoalan serius. Karena, stunting menggambarkan kondisi atau status gizi di masa lalu tidak baik.

Menurutnya, pencegahan stunting harus dilakukan sejak remaja dengan memeriksa kesehatan secara rutin. Terutama, para remaja putri.

“Kita harus menurunkan seminimal mungkin di bawah 20 persen, paling sedikit. Tapi kalau bisa, terus diturunkan hingga tidak ada lagi. Idealnya, tidak ada balita stunting. Nah, mencegah stunting tidak bisa dimulai dari balita tapi dimulai masa remaja sebelum dia hamil. Kalau remaja putri sudah anemia, itu akan menyebabkan munculnya stunting. Remaja dengan masalah kesehatan energi kronis juga bisa sebabkan stunting,” kata Wahyu, belum lama ini.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng Fendiawan Tiskiantoro menyatakan, pencegahan stunting dan penurunan angka prevalensi stunting bisa dilakukan dengan gemar makan ikan sejak dini. Bahkan, masih dalam kandungan. Karena, konsumsi makan ikan di Jateng masih terbilang rendah.

Fendiawan menyebutkan, tingkat konsumsi makan ikan di Jateng hanya 29,19 kilogram per kapita per tahunnya. Padahal, secara nasional angkanya sudah mencapai 51,5 kilogram per kapita per tahun.

“Kita mencoba mendistribusikan ikan dari pantura hingga ke pedalaman, karena memang kalau di kabupaten pedalaman itu rata-rata konsumsi ikannya 22-25 kilogram per kapita per tahun. Kalau di tingkat provinsi, angkanya 29 kilogram per kapita per tahun. Kita promosikan gemar makan ikan, dan kita coba sediakan ikan langsung ke masyarakat dengan harga terjangkau,” ujar Fendiawan.

Lebih lanjut Fendiawan menjelaskan, dengan sejumlah upaya yang dilakukan itu diharapkan tingkat konsumsi makan ikan di masyarakat Jateng bisa meningkat. Harapannya, hingga akhir tahun ini tingkat konsumsi makan ikan masyarakat Jateng bisa mencapai 30 kilogram per kapita per tahun. (Bud)

Artikel sebelumnyaBagaimana Pembinaan dan Pemberdayaan Menyeluruh bagi Pelaku UMKM agar Naik Level?
Artikel selanjutnyaPemerintah Subsidi Iuran JKN-KIS Untuk Peserta PBI

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini