Seberapa Urgen Perampingan Fakultas dalam Menyongsong era Disrupsi?

Semarang, Idola 92.6 FM – Sebanyak 11 perguruan tinggi negeri badan hukum atau PTN-BH didorong untuk masuk jajaran ranking universitas kelas dunia. Guna mewujudkan itu, salah satunya dinilai perlu dilakukan perampingan organisasi seperti fakultas-fakultas. Selain efisien, dosen dengan ini akan semakin fleksibel.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengatakan, di era revolusi Industri 4.0 antardisiplin ilmu di pendidikan tinggi tidak dapat dipisah jauh. Teknik mesin, misalnya, tak bisa terpisah jauh dari teknik elektro karena perpaduan keduanya menghasilkan mekatronika.

Demikian dikemukakan Nasir di sela-sela Sidang Komisi C Majelis Senat Akademik (MSA) PTN-BH di Kota Semarang baru-baru ini. Nasir menambahkan, contoh lain di bidang ekonomi, kini berkembang manajemen logistik, financial technology dan lainnya. Dengan perampingan, recource sharing bisa lebih baik.

Saat ini, tercatat, ada 11 PTN-BH yakni: UI, ITB, UGM, Unpad, IPB, Unair, Undip, ITS, Unhas, UPI, dan USU. Nasir mengatakan, restrukturisasi manajemen perlu karena sejumlah PTN-BH dinilai gemuk. UGM misalnya, dari 2,529 dosen, sebanyak 1.046 di antaranya dosen menjabat (41,4 persen. Di UI, ada 2.257 dosen, 816 di antaranya dosen menjabat (36,2 persen). Di Undip, ada 1.655 dosen, 513 di antaranya dosen menjabat (31 persen). Dengan struktur organisasi yang gemuk/ anggaran banyak tersedot untuk personal.

Berdasarkan QS World University Ranking, UI kini menduduki peringkat ke-292 dunia, disusul ITB (359), UGM (391), Unpad (651-700), IPB (701-750), Unair (751-800), Undip (801-1000) dan ITS (801-1000). UI, ITB, dan UGM diharapkan masuk 200 besar dan PTN-BH lainnya masuk 500 besar.

Lantas, hal krusial apa saja yang mengemuka dan dibahas di dalamnya? Terkait dengan PTN BH di tengah menyongsong dinamika perkembangan di era Revolusi Industri 4.0, kabarnya juga ada wacana untuk melakukan perampingan fakultas di universitas, bagaimana sebenarnya, seberapa penting dan progresnya seperti apa? Seberapa urgen hal ini? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu Radio Idola Semarang mewawancara Ketua MSA PTN-BH/ Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS Surabaya Prof. Priyo Suprobo. (Heri CS)

Berikut wawancaranya:

Artikel sebelumnyaRukma: Jangan Hanya Beda Pilihan Terus Rusak Persaudaran
Artikel selanjutnyaGolput Menjadi Tantangan, Sudahkah Amanat Pendidikan Politik Dijalankan?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini