Bagaimana Mencegah Memburuknya Kemiskinan akibat Pandemi Covid-19?  

Semarang, Idola 92.6 FM-Pendiri Grameen Bank Muhammad Yunus menyebut, ada banyak kemiskinan di dunia adalah karena kita tidak mengatasi masalah dengan benar. Kemiskinan tercipta akibat kita gagal menciptakan kerangka kerja teoritis, lembaga-lembaga, dan kebijakan untuk mendukung kemampuan manusia.

Terkait kemiskinan di Indonesia, jumlah orang miskin bertambah 1,63 Juta orang per Maret 2020. Sehingga, perlu langkah cepat dan terkoordinasi untuk mencegah memburuknya kemiskinan. Apalagi ditambah lagi kita tengah menghadapi krisis di semua sector dengan adanya Pandemi Covid-19.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2020 jumlah orang miskin menjadi 26,42 juta orang (9.78 persen) meningkat 1,63 juta orang atau 0,56 persen dibandingkan September 2019. Sementara, koefisian gini yang menunjukkan ketimpangan kesejahteraan hanya naik 0,001 menjadi 0,381.

Bertambahnya orang miskin telah diantisipasi pemerintah dengan berbagai program Jaring Pengaman Sosial dan Bansos Covid-19 ketika Indonesia mulai dilanda Pandemi Covid-19. Kita perlu mewaspadai kenaikan ini karena laporan BPS adalah untuk periode Oktober 2019-Maret 2020. Pada periode ini belum diberlakukan pembatasan social berskala besar (PSBB).

Kita perlu mengantisipasi jumlah orang miskin akan terus bertambah ketika sejak April  2020, PSBB mulai diterapkan apalagi di beberapa wilayah PSBB diperpanjang karena jumlah kasus Covid-19 terus meningkat.

Lantas,  bagaimana mencegah memburuknya kemiskinan akibat Pandemi Covid-19? Manakala keberhasilan respons pemerintah mencegah memburuknya kemiskinan sangat tergantung dari kemampuan mencapai sasaran dengan tepat—dalam hal ini memahami kebutuhan orang miskin menjadi penting—sudahkah itu dijawab oleh pemerintah? Apapula tantangan terbesar kita dalam upaya ini—mengingat ini juga menjadi problem global?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu nanti kita akan berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal dan Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah. (her)

https://anchor.fm/radio-idola/episodes/wawancara-bersama-Peneliti-Institute-for-Development-of-Economics-and-Finance-INDEF-Rusli-Abdullah-egvts7

https://anchor.fm/radio-idola/episodes/wawancara-bersama-Pengamat-Ekonomi-Universitas-Indonesia-UI-Fithra-Faisal-egvtg2

Artikel sebelumnyaMengurai Kasus Djoko Tjandra; Seberapa Perlu Pembentukan Pansus DPR?
Artikel selanjutnyaBawaslu RI Minta KPU Bisa Bersinergi Untuk Hasilkan Daftar Pemilih Berkualitas