Di Tengah Membanjirnya Kesamaan Produk, Bisnis Mesti Miliki Unique Selling Proposition

Reportase Event Idola Business Gathering 30 Januari 2020

Idola Business Gathering Edisi Januari 2020
Event Idola Business Gathering Edisi Januari 2020.

Semarang, Idola 92.6 FM – Setiap bisnis mesti memiliki Unique Selling Proposition (USP). Tanpa USP, bisnis atau perusahaan Anda akan berada dalam posisi waspada. Sebab, ancamannya pebisnis akan tenggelam di tengah-tengah lautan kesamaan dan persaingan bisnis yang ketat.

Dr Berta Bekti Ratnawati
Dr. Bertha Bekti Retnawati, MSi (Ekonom Unika Soegijapranata Semarang).

Menurut Ekonomi Unika Soegijapranata Dr Berta Bekti Ratnawati, USP menjadikan sebuah jasa atau produk istimewa di mata customer dan pelanggan. USP membedakan produk perusahaan dari para pesaing lainnya. “Dengan memiliki USP akan meningkatkan positioning dan pangsa pasar. Kata kuncinya, sesuatu yang unik namun bisa didelivered atau dikomunikasikan pada pembeli,” kata Berta dalam Idola Business Gathering bertema “Unique Selling Proposition: Kunci untuk Keluar Dari Lautan Kemiripan” yang digelar radio Idola Semarang bekerjasama dengan Hotel Horison Nindya Semarang, Kamis (30/01/2020) pagi di Karulu Sky ounge Horison Nindya Semarang.

Selain Dr Berta Bekti Ratnawati, hadir beberapa narasumber lain yakni Bayu Bagas Hapsoro (Ekonom Universitas Negeri Semarang), Ifan Soputra (Direktur Tavern Group), Nanda Djoenaedy (Owner Briliant Cake), dan Zazilah (Owner Zie Batik Semarang).

Berta menjabarkan, unique artinya membuat produk berbeda dengan yang lain. Selling, membujuk pelanggan untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan, dan proposition, pernyataan proposal atau usulan untuk diterima. “Singkatnya, tawaran yang unik, dan diharapkan sesuai harapan pelanggan. Bicara USP, berarti suatu keunikan tawaran dari bisnis kita pada target pembeli kita,” ujar Berta.

1Tak Mudah Terapkan USP

Bayu Bagas Hapsoro
Bayu Bagas Hapsoro, SE, MM (Ekonom Universitas Negeri Semarang).

Sementara, menurut Ekonom Universitas Negeri Semarang Bayu Bagas Hapsoro, di tengah ketatnya persaingan bisnis, setiap perusahaan atau siapapun orang yang berbisnis, idealnya memikirkan faktor USP. Namun, ada karakter perusahaan yang tak perlu USP yakni perusahaan yang monopolistik. Misalnya, PT PLN. “Tanpa melakukan USP, produk/ jasa mereka akan tetap laku, karena tak ada pesaing,” ujarnya.

Namun, Bayu melanjutkan, tak mudah menerapkan USP. Sehingga, tak semua perusahaan mengaplikasikannya. Kenapa mereka enggan, menurut Bayu, karena dua faktor yakni ketakutan dan mahal. “Untuk menjadi berbeda karena unik itu mahal. Membutuhkan kerja keras, waktu, dan riset,” tuturnya.

Nanda Junaidi
Nanda Junaidi (Owner Brillian Supercake).

Sementara itu, Owner Briliant Cake Nanda Djoenaedy mengisahkan, dalam merintis dan membesarkan binis cake-nya, ia tak ragu untuk melakukan eksperimen dan riset kecil-kecillan. Pada masa awal sebelum sebesar sekarang ini, ia memanfaatkan jejaring perkawanan untuk uji pasar.

“Resep kue yang menemukan istri saya. Saat awal-awal, kami membagikan kue kami ke kawan-kawan untuk tester. Dari itu, kami bisa menilai, apakah cake yang kami buat layak atau tidak untuk dijual,” tutur Nanda yang merintis bisnisnya sejak tahun 1990-an.

Nanda mengungkapkan, salah satu keunikan yang menjadikan Briliant Cake bisa bertahan adalah keunikan cake yang awet meski tanpa bahan pengawet. “Tantangannya adalah bagaimana terus menciptakan resep cake yang baru,” tuturnya.

Ifan Soputra
Ifan Soputra, Direktur Tavern Group.

Direktur Tavern Group Ifan Soputra menambahkan, menjaga konsistensi produk, menurut Ifan, menjadi tantangannya dalam menjaga kebersinambungan bisnisnya. Ia juga melakukan riset kecil-kecilan agar produk yang disajikan bisa diterima pasar di Kota Semarang. “Gimana sih, supaya orang makan hari ini, besok, lusa, pagi, malam, sore, standarnya tetap sama. Challenges-nya, gimana kita bikin sistem yang baik di dapur ataupun service ke pelanggan,” tuturnya.

2Zie Batik: Angkat Warna Alam sebagai USP

Zazilah
Zazilah (Owner Zie Batik Semarang).

Sementara, Owner Zie Batik Semarang Zazilah mengatakan, mencari keunikan produk batiknya bukan sesuatu yang mudah. Mengingat, Jawa Tengah sudah dikenal sebagai sentra batik di Indonesia. Namun, yang dikenal berasal dari Solo, Jogja, dan Pekalongan. Zie batik memproduksi batik dengan pewarna alami dari limbah mangrove dan indigofera.

“Makanya, jika batik di Semarang tak memiliki sesuatu yang beda dengan yang lain, apa bedanya? Pasti tidak lebih baik dengan Solo, Jogja, dan Pekalongan. Ditambah lagi kalau kita mau memproduksi batik di Semarang, mulai dari SDM bermasalah, terus dari bahan baku kita juga tak ada bahan baku yang ready. Kita harus datangkan semua bahan baku dari luar kota. Otomatis nilai jual beda, karena mahal,” ujar Zie yang beralamat di Kampung Malon RT 03/RW 06 Kel. Gunung Pati, Kec. Gunung Pati, Kota Semarang.

Untuk itu, lanjut Zie, ia kemudian menemukan keunikan, pada batik-batiknya yakni gambar motifnya dibuat dari pewarna alam. Ia juga menggandeng petani untuk menanam pewarna alam. “Warna alam itu berpengaruh. Meski di awal, saat mengenalkan ini di Semarang dicemooh karena mahal dan warnanya mbladus. Tapi lambat laun dia punya segmen sendiri dan memang benar,”tutur Zie yang merintis bisnis batiknya di Semarang bawah pada 2006.

Zie Batik Semarang merupakan perusahaan yang memproduksi batik warna alam yang ramah lingkungan serta pemanfaatan limbah dan pembudidayaan tanaman langka. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2006 dan mengklaim sebagai pelopor usaha batik di kota Semarang. Perusahaan ini didirikan untuk mengembangkan batik di Kota Semarang yang diawali dari beberapa pelatihan membatik serta memunculkan motif-motif khas Semarang sebagai salah satu potensi yang dapat memberi nilai tambah bagi kota Semarang.

Parade busana koleksi Margaria Batik
Parade busana koleksi Margaria Batik yang diperagakan oleh model-model dari ASTHA Model pimpinan Adelia Nugroho.

Batik-batik dari pewarna alami Zie ini tak hanya tersohor di Indonesia, atas capaiannya mengajak masyarakat berkreasi membatik, Zie mendapat penghargaan dari pemerintah Kota Semarang bahkan hingga Kementerian. Terkait dengan harga batik legenda berkisar mulai Rp5 juta hingga Rp16 juta setiap 2,5 meter.Batik Legenda memiliki kekhasan tersendiri, filosofi yang ada di lukisan batik mencerminkan keberagaman Indonesia. Warna biru alami menjadi daya tarik pada beberapa batik dengan warna dasar biru.

Di sela-sela acara juga diselingi parade busana koleksi Margaria Batik yang diperagakan oleh model-model dari ASTHA Model pimpinan Adelia Nugroho. Motif yang dibawakan para model bertema “Parang Sewu”. (Heri CS)

Artikel sebelumnyaRealisasi Investasi Jateng 2019 Capai Rp59,50 Triliun
Artikel selanjutnyaPemprov Fasilitasi Mahasiswa Asal Jateng di Tiongkok Untuk Pulang ke Tanah Air

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini