Penanganan Happy Hypoxia Harus Rutin Cek Saturasi Oksigen Setiap 6 Jam Sekali

Yulianto Prabowo
Yulianto Prabowo, Kepala Dinkes Jateng.

Semarang, Idola 92,6 FM – Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyebutkan, untuk penanganan dan pemeriksaan Happy Hypoxia harus dengan rutin mengecek kadar oksigen dalam tubuh setiap enam jam sekali. Terutama, bagi pasien COVID-19 yang kategori Asimtomatis atau tanpa gejala.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo mengatakan Happy Hypoxia atau penyebab kematian tanpa gejala, bisa dideteksi ke pasien positif COVID-19 dengan menggunakan alat oxymeter. Yakni, mengukur kadar oksigen di dalam darah seorang pasien.

Yulianto menjelaskan, pemeriksaan dengan oxymeter tidak cukup dilakukan sekali dalam kurun periode infeksi terjadi. Pemeriksaan dengan oxymeter harus berulang, atau setidaknya setiap enam jam sekali.

Menurutnya, untuk di Jateng kasus Happy Hypoxia sudah dilaporkan di sejumlah wilayah.

“Happy hypoxia sebenarnya itu fenomena di mana saja, di seluruh dunia sama. Dan di Jawa Tengah juga ada seperti itu. Yang sudah ada laporannya itu di Banyumas, Solo dan Kudus. Yang lain beberapa pada prinsipnya semua rumah sakit yang merawat seperti ada yang ringan hingga meninggal dunia. Jadi, ketahuannya itu setelah diukur saturasi oksigennya. Kalau orang normal saturasi oksigennya di bawah 90 butuh ventilator,” kata Yulianto, Kamis (10/9).

Lebih lanjut Yulianto menjelaskan, Happy Hypoxia menjadi berbahaya karena pasien tidak merasa ada gejala. Umumnya, tidak segera mendapat penanganan medis karena sifatnya yang tiba-tiba.

“Makanya, seluruh rumah sakit yang menangani COVID-19 sudah diminta memeriksa secara menyeluruh kondisi pasien. Termasuk, mendiagnosa apakah ada yang mengindikasi ke Happy Hypoxia atau tidak,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaBagaimana Mengejawantahkan Pernyataan Presiden yang akan Mengutamakan Aspek Kesehatan dalam Penanganan Covid-19?
Artikel selanjutnyaKapolda Canangkan Gerakan Jawa Tengah Bermasker