Maraknya Baliho Politisi di Tengah Pandemi

Bagaimana Cara Masyarakat Merespons Fenomena itu?

Baliho War
ilustrasi/istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Dalam beberapa waktu terakhir, marak billboard maupun baliho bergambar wajah petinggi partai politik di sejumlah wilayah. Baliho berukuran mulai dari sedang hingga jumbo itu bertebaran di pinggir jalan sejumlah kota. Baliho kini bak panggung kampanye citra politisi.

Atas fenomena baliho para politisi ini, seorang seniman kartun pun tergerak memparodikannya dengan sebuah pemandangan alam khas anak SD di Zaman Old: ada pemandangan sawah lengkap dengan dua gunung dan di tengah-tengahnya ada matahari serta jalan membelah persawahan lengkap dengan pohon-pohonnya. Namun, si seniman menambahkan, pemandangan versi Zaman Now telah berubah, di sepanjang pinggir jalan tersebut, baliho-baliho berwajah politisi tadi mengantikan pohon-pohon di sepanjangan jalan yang membelah sawah-sawah. Sebuah kartun yang satire.

Wajah-wajah dalam baliho itu seolah tengah bersolek atau memoles diri–mengingat elektabilitas mereka masih tertinggal dari kepala daerah yang berpotensi menjadi kandidat dalam Pilpres 2024.

Beberapa politisi yang tengah tebar pesona itu antara lain: politisi PDIP Puan Maharani, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Di negara demokrasi, upaya yang mereka lakukan ini tentunya sah-sah saja. Toh, beban biaya juga mereka tanggung sendiri. Namun, sejumlah pihak menilai, upaya tebar pesona ini tak etis di tengah kondisi masyarakat yang tengah terpuruk menghadapi Pandemi Covid-19.

Lantas, ketika Pilpres baru akan berlangsung tiga tahun lagi tapi sejumlah petinggi parpol sudah sibuk tebar pesona dengan memasang baliho di mana-mana. Apakah itu berarti, mereka mendahulukan urusan pencalonan presiden ketimbang penanganan Covid-19? Bagaimana cara masyarakat merespons fenomena itu?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, kami nanti akan berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Wawan Sobari Ph.D (Dosen Bidang Politik Kreatif, mantan Kaprodi Magister Ilmu Sosial FISIP Universitas Brawijaya, Malang); Arsul Sani (Politisi PPP/ tokoh negarawan); dan Pangi Syarwi Chaniago (Analis politik/ Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting). (her/ yes/ ao)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaPengusaha Roti di Pati Jual Aset Untuk Bertahan
Artikel selanjutnyaMengenal “Kokro” Permen untuk Turunkan Kecanduan Rokok karya Tim Mahasiswa Unpad Bandung

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini