Mengenal Didi Setiadi, Petani Bunga Gerbera dari Sumowono Kabupaten Semarang

Didi Setiadi
Didi Setiadi, Petani Bunga Gerbera dari Sumowono Kabupaten Semarang. (Photo dok Didi)

Semarang, Idola 92.6 FM – Mewarisi darah petani dari sang ayah, Didi Setiadi (26) kini menjadi petani sukses di Sumowono Kabupaten Semarang. Sebelumnya, ia pernah ingin terjun di dunia pendidikan dengan menjadi guru. Sehingga, ia sempat merampungkan studi dan menjadi sarjana pendidikan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta.

Namun, pada akhirnya, ia kemudian memilih menjadi petani bunga dibanding sebagai guru sesuai ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah. Karena ia sejatinya telah menyukai dunia pertanian sejak kecil.

Didi Setiadi sedang memanen Gerbera
Didi Setiadi sedang memanen/memetik bunga Gerbera. Setelah dipanen, bunga-bunga tersebut dijual ke pedagang bunga di Pasar Bandungan Kabupaten Semarang dan Yogyakarta. (Photo dok Didi)

Pada tahun 2017, Didi memutuskan berhenti manjadi guru bahasa Indonesia untuk bertani bunga Gerbera. Ia memilih bergelut dengan bunga warna-warni itu di lahan seluas 2.000 meter di Desa Candigaron Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Dibantu 7 orang, ia terus bertahan untuk bertani bunga Gerbera meski saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, omzet penjualan turun.

Kebun bunga Gerbera yang dikelolanya terbagi dalam empat lokasi berbeda namun masih dalam satu wilayah. Ada enam varian bunga Gerbera, yakni merah, merah muda, fanta, salem, oranye, kuning, dan putih. Didi mengaku tertarik menanam bunga sejak anak-anak.

Keunggulan dari bunga Gerbera miliknya dibanding hasil kebun petani lain, yaitu bisa tahan hingga dua minggu setelah pemetikan yang umumnya hanya sekitar seminggu. Untuk harga per ikatnya (isi 10 tangkai) berkisar Rp10 ribu- Rp25 ribu.

Selengkapnya, mengenal budidaya bunga gerbera dan keuntungannya dibanding jenis bunga lain, berikut ini wawancara radio Idola Semarang dengan Didi Setiadi, pemilik Setia Farm dan petani bunga Gerbera dari Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang Jawa Tengah. (yes/ her)

Dengarkan podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaMenakar Kebijakan Pemerintah yang Menghapus Angka Kematian Warga dari Indikator Penilaian Covid-19
Artikel selanjutnyaDinkes Jateng Sebut 3 Faktor Yang Pengaruhi Angka Kematian Tinggi

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini