Mengenal “KAMI CATER” Inovasi Pengganti Semen karya Mahasiswa UNS

Tiga Mahasiswa UNS Surakarta
Dalam foto dari kiri ke kanan: Muhammad Abid, Yelsa Hanifah Ardin, dan Haidar Putra Firdaus, mahasiswa Prodi D3 Teknik Sipil Sekolah Vokasi UNS Surakarta. (Photo dok Abid)

Surakarta, Idola 92.6 FM – Tiga Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berinovasi mengolah sekam padi dan cangkang telur (KAMI CATER) menjadi bahan pengganti semen. Berkat inovasinya ini, mereka meraih juara 2 dalam lomba beton tingkat nasional “Optimalisasi Penggunaan Bahan Pengganti Semen dalam Beton Normal Ramah Lingkungan” yang diselenggarakan Prodi Teknik Sipil Politeknik Negeri Jakarta dalam gelaran Civil Engineering Festival 2021.

Ketiga mahasiswa UNS itu yakni: Muhammad Abid, Yelsa Hanifah Ardin, dan Haidar Putra Firdaus yang tergabung dalam SS-02 MINION ini merupakan mahasiswa dari program studi (Prodi) D3 Teknik Sipil Sekolah Vokasi (SV) UNS.

Sekam Padi+Cangkang Telor
Sekam Padi dan Cangkang Telur sebelum diproses menjadi semen.(Photo dok Abid)

Menurut Abid, pemanfaatan sekam padi dan cangkang telur dinilai masih kurang walaupun bahan-bahan tersebut sangat mudah ditemukan. Inilah yang menjadi alasan mengapa memilih limbah sekam padi dan cangkang telur karena keduanya memiliki kandungan yang sama dengan semen. Abid menjelaskan, dalam abu sekam padi terdapat silikon dioksida sedangkan serbuk cangkang telur juga ditemukan kandungan magnesium oksida.

Semen Sekam Padi+Cangkang Telor
Inilah Semen dari bahan Sekam Padi dan Cangkang Telur karya Mahasiswa UNS Surakarta. (Photo dok Abid)

Sebelum mengolah limbah ini sebagai bahan pengganti semen, tim mengolahnya terlebih dahulu untuk menghilangkan zat-zat organik yang terdapat di dalamnya.

Selengkapnya, mengenal inovasi bahan pengganti semen dari sekam padi dan cangkang telur “KAMI CATER” karya mahasiswa UNS, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Muhammad Abid, mahasiswa UNS Surakarta dan salah satu tim inovasi bahan pengganti semen dari sekam padi dan cangkang telur. (yes/ her)

Dengarkan podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaCapaian Vaksinasi di Jateng 22 Persen
Artikel selanjutnyaBagaimana Menggugah Kesadaran Pemangku Kebijakan dan Warga atas Ancaman Terendamnya Sebagian Pesisir di Indonesia pada 2050?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini