Mengenal Tiga Bersaudara Pelestari Lingkungan Puncak Bogor

Dasimto, Inisiator Kelompok Tani Hutan (KTH)
Dasimto, Inisiator Kelompok Tani Hutan (KTH) Kampung Cibulao, Kabupaten Bogor. (photo dok Dasimto)

Semarang, Idola 92.6 FM – Melihat kerusakan lingkungan hutan yang terjadi di kawasan Puncak Bogor, tiga bersaudara ini tergerak. Tak cukup bertiga, mereka pun mengajak warga sekitar untuk peduli terhadap lingkungan yang selama ini menjadi sasaran pelaku perambah hutan. Tak cukup sampai di situ, mereka pun kemudian menginisiasi Kelompok Tani Hutan (KTH) Kampung Cibulao Kabupaten Bogor.

Ketiga bersaudara itu yakni Dasimto, dan dua kakaknya, Jumpono dan Kiryono. Tiga bersaudara itu mengubah perilaku warga dari perambah hutan menjadi pelaku konservasi hutan. Padahal, hampir separuh kawasan Puncak yakni Cisarua dan Megamendung, diselimuti lahan sangat kritis. Selama 5 tahun terakhir, longsor dan banjir bandang terjadi setiap tahun di hulu Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Bahkan banjir di Jakarta sering dikaitkan dengan kondisi alam di Puncak.

Dasimto saat menyemai benih kopi
Dasimto, Inisiator Kelompok Tani Hutan (KTH) Kampung Cibulao, saat menyemai benih kopi bersama petani lainnya. (photo dok Dasimto)

Kang Dasim, panggilan akrab Dasimto menjelaskan, apa yang dilakukannya bermula dari tahun 2007. Anggota KTH yang umumnya buruh pemetik teh di kebun milik perusahaan swasta ini, menjadi penanam kopi dan pelestari alam.

Seiring berjalannya waktu, anggota KTH yang mencapai 300 petani dipercaya mengelola areal hutan Perum Perhutani di Cisarua dengan total luas 610,64 hektar. Hingga kini, sudah 250 hektar yang dihijaukan, ditanami tak kurang dari 500.000 batang pohon kopi dan pohon keras lainnya.

Dasimto saat menyiangi tanaman liar di sekitar tanaman
Dasimto saat menyiangi tanaman liar di sekitar tanaman. (photo dok Dasimto)

Mulai 2014, Pusat Pengkajian, Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Pertanian Bogor membina mereka melakukan konservasi hutan dengan menanam kopi. Hasilnya, warga kampung jadi sadar bahaw hidup mereka bergantung dari kelestarian alam.

Kini, KTH Cibulao membuka dua kedai yakni kedai Kopi Cibulao di Jalan Raya Puncak dekat Pasar Cisarua dan satu lagi di Telaga Saat Cisarua.

Dasimto saat memproses kopi
Dasimto saat memproses kopi. (photo dok Dasimto)

Tak ada yang sia-sia, dan proses tak akan mengkhianati hasil. Apa yang dirintis tiga bersaudara ini, mendapat apresiasi tingkat nasional. Produk pertanian mereka berhasil meraih peringkat pertama tingkat nasional kopi robusta pada Kontes Kopi Spesialti Indonesia yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) pada 2016.

Selengkapnya, mengenal kiprah dan perjuangan tiga bersaudara pelestari lingkungan kawasan Puncak Bogor, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Dasimto, Inisiator Kelompok Tani Hutan (KTH) Kampung Cibulao Kabupaten Bogor. (yes/her)

Dengarkan podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaMendorong Pemerintah Memprioritaskan Riset dan Inovasi
Artikel selanjutnyaSebanyak 16 Ribu Investor Baru di Semarang Siap Berebut Cuan