Mengenang Prie GS, Para Kartunis Gelar Pameran “Ora Mung Nyengenges”

Mengenang Prie GS

Semarang, Idola 92.6 FM – Mengenang budayawan cum kartunis Prie GS, para kartunis dengan diinisiasi Prodi Ilmu Seni dan Arsitektur Islam (ISAI) FUHUM UIN Walisongo bekerja sama dengan Komunitas Kartun Gold Pencil dan UIN Walisongo akan menggelar pameran kartun bertajuk “Ora Mung Nyengenges.”

Acara akan digelar pada 8-18 April 2021 di Galeri Nusantara, ISAI Kampus 2 Fakultas Ushuludin dan Humaniora (FUHUM) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

“Sebanyak 57 kartunis di Indonesia terlibat dalam pameran ini. Pameran ini sebagai bentuk penghormatan untuk budayawan Prie GS yang meninggal dunia pada 12 Februari 2021,” kata Panitia pameran, Abdullah Ibnu Thalhah, dalam siaran persnya kepada radio Idola Semarang, Selasa (06/04). Pameran kartun juga serangkaian Dies Natalis ke-51 UIN Walisongo Semarang.

Menurut Abdullah Ibnu Thalhah, pameran ‘Ora Mung Nyengenges’ akan menyingkap berbagai makna yang menghadirkan kembali kesadaran tentang laku budaya, bahkan spiritual, yang seperti sengaja ditutupi dengan humor.

“Betapa di balik humor beliau yang cerdas tapi seringkali tampak lugu dan katrok itu, adalah wasilah saja,” kata Sekretaris Prodi ISAI FUHUM UIN Walisongo itu.

Menurut Abdullah, Prie GS bukan hanya sahabat. Ia adalah guru. Ia pustaka ruhaniah yang layak dikoleksi untuk pengkayaan jiwa. Melalui karya-karya beliau yang sederhana dan dekat, tetapi disajikan dengan narasi yang dalam dan fundamental.

“Melalui pameran ini, kita bersama-sama akan menyaksikan beragam tafsir visual tentang sosok luar biasa ini secara arstistik dan penuh humor ala kartun,” katanya.

Sementara itu, Ketua Gold Pencil, Abdul Arif menyebut, kartunis yang terlibat dalam pameran tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya dari Kota Semarang, Kendal, Jakarta, Depok, Bogor, Makassar, Bali, Jambi dan daerah lainnya. Menurutnya, jumlah 57 kartunis itu mengacu pada usia Prie GS saat tutup usia.

Ia mengatakan, pameran akan dibuka dengan sarasehan dan doa bersama KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. KH Imam Taufiq, M.Ag., sastrawan Triyanto Tiwikromo, Host Humor Sufi Candra Malik dan putra Prie GS Maulana Gibran.

“Pameran ini menerapkan protokol kesehatan. Buka tiap hari sesuai jam kerja. Silakan berkunjung,” tandasnya.

Sosok Prie GS: Dari Penyair, Kartunis, hingga Public Speaker

Prie GS
Prie GS saat menjadi narasumber Warung Gaul On Stage yang diselenggarakan Radio Idola Semarang beberapa waktu lalu.

Sosok Prie GS merupakan manusia multi talenta. Seabrek profesi dan atribusi disandangnya. Berikut sejenak mengingat sosok, jejak, karir, dan karyanya. Prie GS lahir di Kendal pada tanggal 3 Februari 1964. Dirinya mengawali karier menjadi seorang wartawan di Harian Umum Suara Merdeka, Semarang, Jawa Tengah. Selain itu, Prie GS juga dikenal sebagai kartunis, penyair, penulis, dan juga public speaker di berbagai seminar.

Setelah menyelesaikan pendidikan dibangku SMA, Prie GS menekuni dunia kartunis, dan sempat belajar khusus kepada kartunis kawakan dari Harian Umum Kompas, G.M. Sudarta.

Kemudian Prie GS melanjutkan pendidikan di jurusan seni musik, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Semarang. Di tempat itulah, kemampuannya semakin terasah.

Saat menjadi seorang wartawan, Prie lebih banyak memegang rubrik bermuatan kesenian, dengan rutin setiap minggunya menggambar kartun di surat kabar tempatnya bekerja. Diketahui Prie juga pernah menjadi pemimpin majalah wanita Cempaka.

Walaupun sempat menjadi mahasiswa jurusan seni musik, Prie GS justru memilih menjadi seorang kartunis hingga akhir hayatnya.

Menjalani hidup sebagai seorang wartawan, penulis kolom, dan juga kartunis membuat wawasan Prie GS semakin luas, dan ini yang membawanya terjun sebagai public speaker. Prie bahkan sering diundang sebagai pembicara, motivator, dan juga pengasuh acara-acara bertema budaya.

Banyak karya-karya yang telah diterbitkan oleh Prie GS. Mulai dari puisi, cerpen, kolom, kartun, hingga buku-buku humor. Nama Tuhan di Sebuah Kuis (2003), Merenung Sampai Mati (2004), Hidup Bukan Hanya Urusan Perut (2007), Ipung, novel motivasi Pembangkit Kepercayaan Diri (2008), Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia (2009), Indonesia Jungkir Balik (2012), Hidup ini Keras, Maka Gebuklah (2012), Waras di Zaman Edan (2013), Indonesia Tertawa, Hidup Boleh Susah, Jiwa Tetap Bahagia (2014), dan Mendadak Haji (2016).

Sementara itu, di ranah hiburan radio dan televisi, Prie juga masih aktif menjadi host untuk acaranya refleksi hingga akhir masa hidupnya. Di akhir hayatnya, mas Prie masih akltif mengisi petuah pendek Kabar dari Sedulur dan program acara Warung Gaul di radio Idola Semarang. (her)

Artikel sebelumnyaKapolda Rangkul Pelajar Papua di Jateng Jadi Anak Asuh
Artikel selanjutnya6 Terduga Teroris Diamankan di Jateng

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini