Memahami Rendahnya Tingkat Kecerdasan Penduduk Indonesia, Apa Masalahnya?

Ilustrasi
Ilustrasi/ISTIMEWA

Semarang, Idola 92.6 FM – Saat memasuki jenjang Pendidikan, beberapa institusi mengadakan semacam tes kecerdasan untuk mengetahui berapa skor Intelligent Quotients (IQ) muridnya. Tes tingkat kecerdasan ini juga digunakan sebagai indikator yang memengaruhi kualitas individu yang terukur.

Melansir dari World Population Review 2021. Skor IQ digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan suatu negara. Skor rerata tiap negara diperoleh dari tes IQ yang telah distandardisasi. Dalam studi tahun 2019 berjudul “The Intelligence of Nations”, Lynn bersama David Becker mengukur IQ rata-rata warga di 132 negara. Berdasaran World Population Review, beberapa negara menduduki skor IQ tertinggi, yakni: Jepang (Rerata IQ: 106,49) dan Taiwan (106,47), kemudian disusul Singapura (105,89 4), Hong Kong (105,37), dan China (104,10).

Bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya, Indonesia tidak masuk dalam daftar 5 negara dengan jumlah skor IQ tertinggi di dunia tersebut. Sebaliknya, berdasarkan data dari World Population Review, penduduk Indonesia memiliki rata-rata skor IQ penduduk 78,49, dan menempati peringkat ke-132 dari total 199 negara yang diuji.

Intelligence Quotients merupakan kemampuan seseorang untuk menalar, memecahkan masalah, belajar, memahami gagasan, berpikir, dan merencanakan sesuatu. Kecerdasan ini digunakan untuk memecahkan masalah yang melibatkan logika.

Ada banyak tolok ukur yang bisa digunakan untuk mengukur kecerdasan. Beberapa tolok ukur yang kini digunakan ialah melalui pengukuran tingkat IQ, atau melalui peringkat pendidikan (kemampuan membaca, matematika, dan sains). Pendidikan dan kecerdasan dinilai terkait erat karena sistem pendidikan yang lebih kuat cenderung menghasilkan populasi yang lebih cerdas dari waktu ke waktu.

Lantas, memahami rendahnya tingkat kecerdasan Indonesia, apa pokok pangkalnya? Jika pola asuh anak menjadi salah satu faktornya, maka, bagaimana memperbaikinya? Dan, mesti dimulai dari mana?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, di antaranya: Lita Widyo Hastuti, S.Psi., M.Si (Psikolog Unika Soegijapranata Semarang) dan Euis Sunarti (Guru Besar Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga IPB University). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaPertamina Pastikan Stok Pertalite di Jateng Aman
Artikel selanjutnyaBI Jateng Siapkan 425 Titik Layanan Penukaran Uang

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini