Anak-anak Indonesia Berkemampuan Literasi Rendah: Apa Jalan Keluarnya?

Literasi Anak Indonesia Rendah
Ilustrasi/Istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Walt Disney, pernah berucap, “There is more treasure in books than in all the pirate’s loot on Treasure Island,” (Ada lebih banyak harta karun di buku, daripada di semua hasil rampasan para bajak laut di Pulau Harta Karun).

Maka, tak salah kalau ada pepatah “buku adalah jendela dunia”. Di mana kemampuan literasinya, akan “mendobrak jendela dunia,” sehingga membuat anak-anak kita melihat harta karun ilmu pengetahuan yang membuka perspektif dan memantik ide-ide inovatif mereka.

Untuk mencapai semua itu, syaratnya harus ada minat untuk membaca, lebih-lebih anak-anak mesti memiliki tingkat literasi yang memadai.

Namun sayangnya, tingkat literasi kita saat ini masih jauh dari harapan ideal.

Salah satu indikatornya, hasil Programme for International Student Assesment (PISA) yang diinisiasi OECD, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, menunjukkan: bahwa anak-anak Indonesia berkemampuan literasi rendah. Dengan kata lain, mereka hanya bisa membaca, tapi belum mampu memahami dan menganalisis apa yang dibaca, apalagi untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Skor PISA Indonesia di bidang literasi berada di peringkat ke-74 dari 79 negara dalam tes PISA tahun 2018. Yang lebih memprihatinkan, skor PISA anak-anak Indonesia menurun 397 pada tahun 2015 menjadi 371 pada tahun 2018.

Hal ini diperkuat oleh data dari UNESCO tahun 2019 bahwa minat baca bangsa Indonesia rendah—hanya 3 dari 10 orang Indonesia yang memiliki minat membaca. Ini tentunya sangat memprihatinkan.

Maka, ketika tes PISA menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia berkemampuan literasi rendah, padahal kemampuan literasi baca merupakan jalan untuk mendobrak jendela dunia dan memantik ide-ide inovatif. Maka, akankah kita membiarkan PISA kita yang rendah ini? Lalu, apa jalan keluarnya? Dan, terobosan-terobosan seperti apa saja yang mesti kita lakukan?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Dr Jejen Musfah, M.A (pengamat pendidikan/ Wasekjen PB PGRI) dan Indra Charismiadji (Wakil Ketua Umum Vox Populi Institute Indonesia). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaJelang Pilpres, Ikatan Koalisi Antarparpol Dinilai Masih Rapuh: Apa Penyebabnya?
Artikel selanjutnyaKades se-Jateng Siap Dukung Pengentasan Kemiskinan Ekstrem