Peringati 100 tahun Kematian Franz Kafka, Belasan Penulis Terjemahkan Tiga Cerpen Kafka dalam 13 Bahasa Daerah

Memperingati 100 tahun Kematian Sastrawan Franz Kafka
Memperingati 100 tahun Kematian Sastrawan Franz Kafka (1924-2024) digelar diskusi “Menerjemahkan Karya Franz Kafka ke dalam bahasa daerah di Indonesia,”Minggu (07/07/2024) secara daring. Acara digagas secara gotong royong oleh: KUMMI, Penerbit JBS, Radio Boekoe, dan milis Apresiasi Sastra. (Foto: Heri CS)

Yogyakarta, Idola 92.6 FM – Memperingati 100 tahun kematian Sastrawan Franz Kafka (1924-2024), belasan penulis dari pelbagai daerah menerjemahkan tiga cerpennya ke dalam 13 Bahasa daerah di Nusantara. Gerakan yang bersifat gotong royong ini digagas oleh Sigit Susanto, penulis dan penerjemah karya-karya Franz Kafka dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia.

Tahun 2024, genap 100 tahun meninggalnya Franz Kafka, sastra kelahiran Praha, 3 Juli 1883. Kafka meninggal pada 3 Juni 1924. Masyarakat sastra dunia terutama di negeri Eropa yang menggunakan bahasa Jerman, memperingatinya dengan pelbagai kegiatan sastra. Agenda penerjemahan beberapa karya Kafka ke dalam bahasa daerah ini juga dimaksudkan untuk menandai satu abad kematian Franz Kafka di Indonesia.

Tiga cerpen Kafka sebelumnya diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia oleh Sigit Susanto, yakni Di Depan Hukum (Vor dem Gesetz), Sebuah Persilangan (Eine Kreuzung), dan Sang Penunggang Ember (Der Kubelreiter).” Kini, ketiga cerpen tersebut dapat dinikmati pembaca dalam 13 bahasa daerah, yakni Papua Suku Mee Idakebo Dogiyae (diterjemahkan Nomensen Douw), Melayu Ambon (Jean Marlon Tahitoe), Sumbawa (Dedy Ahmad Hermansyah), Sasak Lombok dialek Ngeno-Ngene (Ahmad Sugeng), Dayak Banyaduq (Kristian), Bali (I Putu Supartika), Madura (Rizaldi Anugroho Pratama), Jawa (Sugito Sosrosasmito), Sunda (Eddi Koben), Lampung (Uzo Z. Karzi), Minangkabau (Indrian Koto), Batak Toba (M. Tansiswo Siagian), dan Aceh Suku Gayo (Salman Yoga S).

Buku berjudul Di Depan Hukum & Cerita Lain Frakz Kafka dalam 13 Bahasa Daerah itu diterbitkan oleh Penerbit JBS, Juli 2024. Peluncuran sekaligus diskusi buku diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Minggu 7 Juli 2024 bertema “Menerjemahkan Karya Franz Kafka ke dalam bahasa daerah di Indonesia; Sebuah Upaya untuk Mengakrabkan Karya-karya Franz Kafka.”

Acara digagas secara gotong royong oleh: KUMMI (Kolektif untuk Menerjemahkan dan Menerbitkan dalam Bahasa Indonesia, Penerbit JBS, Radio Boekoe, dan milis Apresiasi Sastra. Sebagai pemantik diskusi: Sigit Susanto (Penggagas & Koordinator penerbitan buku Di Depan Hukum & Cerita Lain Frakz Kafka dalam 13 Bahasa Daerah), Nomensen Douw (Penerjemah ke bahasa Papua dialek Suku Mee), Sugito Sosrosasmito (Penerjemah ke bahasa Jawa). Acara dipandu Erika Risqi (Penggawa KUMMI).

Lika Liku Penerjemahan

Gagasan penerbitan buku ini bermula ketika Sigit menerjemahkan cerpen Vor dem Gesetz (Di Depan Hukum) ke dalam bahasa Indonesia. Cerpen itu ia tawarkan pada Sugito Sosrosasmito, penghikmat budaya Jawa dan teman yang mahir dalam bahasa Jawa. Sigit terpana, cerpen itu tak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, tetapi dia tulis ulang dalam abjad hanacaraka.

Tak sampai di situ, Sigit dibuat takjub olehnya karena ia merekam pembacaan cerpen itu dalam audio. Sigit terkesan seperti menonton wayang kulit, terutama dialog antartokoh dibacakan ala dalang.

Hasilnya diposting Sigit ke facebook dan grup facebook Membaca Karya Franz Kafka. Postingan itu ia hubungkan ke akun facebook Eddi Koben, temannya di Bandung dengan harapan Eddi berniat turut menerjemahkan ke dalam bahasa Sunda. Gayung bersambut.

“Bahkan, Eddi Koben lebih nekat. Cerpen itu langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda dan ia menantang saya, sekirangan ada cerpen Kafka yang lain?” ungkap Sigit seperti dikisahkan dalam Pengantar buku.

Dari sini Sigit mulai mempertimbangkan, cerpen apa dari Kafka yang bisa memikat pembaca kita terutama di daerah-daerah. Karya-karya Kafka diakui kerumitannya oleh pembaca berbahasa Jerman sendiri, bagaimana nanti karya itu jika dibaca dalam bahasa daerah? Lalu, upaya “getok tular” dilakukan ke jejaring literasi Sigit di berbagai daerah melalui media sosial dan terwujudlah dalam momentum hari kematian Franz Kafka.

“Akhirnya terjemahan 13 bahasa derah terhimpun dan memerlukan waktu sekitar 2 tahun, 2023-2024,” ujarnya.

Memperingati 100 tahun Kematian Sastrawan Franz Kafka
Sejumlah penulis melalui kerja gotong royong menerbitkan buku Di Depan Hukum & Cerita Lain Frakz Kafka dalam 13 Bahasa Daerah (Penerbit JBS, Juli 2024) untuk memperingati 100 tahun kematian Franz Kafka.

Sementara itu, Sugito Sosrosasmito menuturkan, dalam proses penerjemahan dirinya membaca hingga berulang-ulang 3 cerpen Kafka tersebut. Penerjemahan ke bahasa Jawa kesulitannya adalah membumikan cerita. “Saya harus betul-betul perlu mengulang pembacaan hingga puluhan kali,” ujarnya saat berbagi dalam diskusi daring.

Menurut Sugito, bahasa Jawa itu unik. Dalam proses penerjemahan, tidak asal mencari padanan kata–mengingat dalam khasanah Jawa, satu kata bisa memiliki banyak sinomim. Sehingga mesti memilih padanan mana yang berdampkak lebih memahamkan pembaca. “Sinonim mana yang kira-kira “nggeget rasa”. Punya rasa menyentuh pembaca,” ujar Sugito, penulis asal Magetan ini.

Sugito mencontohkan, pada terjemahan Sebuah Persilangan, ada satu kata yang ia lebih memilih kata “kepranggul” daripada sinonim lain semisal ‘ketemu’, ‘kepanggih’, atau ‘kecegat’. Kalimat utuhnya, “Saben kepranggul kucing ajeg mlayu nggendring.” (Jika berhadapan dengan kucing, ia kabur). (hlm.109)

“Saya lebih memilih ‘kepranggul’ dan ‘nggenjring’. Nggenjring untuk menekankan lari cepat. Ada persajakan dalam bangunan kalimat. Dalam istilah bahasa Jawa, persamaan konsonan. Punya daya sastra,” jelas Sugito yang juga berprofesi sebagai dalang.

Sugito menambahkan, ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan dalam proses penerjemahan ke bahasa Jawa. Mulai dari tingkat tutur hingga krama inggil. “Nah, itu harus dilibatkan dalam proses penerjemahan semacam ini,” katanya.

Sementara itu, Nomensen Douw, bercerita, dirinya menerjemahkan dalam bahasa Papua Suku Mee “Idakebo” dengan bertumpu pada bahasa ibu yang ia pelajari secara lisan di kampung kecilnya. Artinya, ia menerjemahkan menurut versinya karena kamus bahasa Papua Suka Mee belum ada.

“Banyak kosa kata yang belum ada dan saya harus berusaha semaksimal mungkin, bagaimana cara menemukan padanan itu sesuai bahasa lisan suku saya,” ujar Nomensen pada 50-an peserta zoom meeting.

Nomensen menyebut bahasa Papua suku “Mee Idakebo” karena ia belajar bahasa ibu dari kampung namanya Idakebo. Bahasa lisan ini berbeda dengan kampung lain. “Sebab itu, saya perlu pertegas bahwa bahasa yang saya pakai adalah yang sesuai bahasa yang sehari-hari dibicarakan di kampung saya,” tutur lelaki kelahiran Papua, 14 November 1990.

Memperingati 100 tahun Kematian Sastrawan Franz Kafka
Nomensen Douw, penerjemah bahasa Papua Suku Mee “Idakebo”

Nomensen mengakui mengenal Franz Kafka baru dalam beberapa tahun belakangan. Ia termotivasi turut dalam “kerja sosial” penerjemahan ini karena ingin mengenalkan bahasa ibu-nya ke publik luas melalui karya sastra. “Saya tak ingin bahasa ibu saya ini punah seperti halnya beberapa bahasa daerah lain di Nusantara,” harapnya.

Mengapa Franz Kafka?

Mengapa Franz Kafka yang dipilih di tengah banyak alternatif sastrawan kaliber dunia maupun dari Indonesia? Sigit Susanto menjelaskan, gaya penulisan Franz Kafka sangat unik. Kafka tak hanya dinobatkan sebagai salah satu sastrawan paling berpengaruh pada abad 20, tetapi gaya penulisan Kafka menjadi Kafkaesk, yakni sebuah adjektiva baru dalam sastra dunia.

“Bilamana ada karya sastra yang lahir pascamasa Kafka mengandung kerumitan birokrasi, kebuntuan, pesimis, labirin gelap sampai pada kisah horor, maka akan diberi julukan karya itu berciri Kafkaesk,“ katanya.

Berangkat dari pertimbangan itu, lanjut Sigit, sudah sewajarnya karya sastra kelas dunia ini tak hanya dihadapkan ke pembaca berbahasa Indonesia, tetapi ke bahasa-bahasa daerah di Indonesia. “Saya tinggal di Swiss sampai sekarang sudah 28 tahun. Saya memperhatikan diskusi sastra bahasa Jerman baik di media, TV dan forum lain bahwa nama Kafka sering disebut dan karyanya dianggap berkualitas tinggi,” ujar moderator milis Apresiasi Sastra ini.

Menurut Sigit, apabila kita membiacarakan prosais modern dunia. Pada sastra Inggris, maka James Joyce diianggap mewakili. Pada sastra Prancis, ada sosok Marcel Proust, dan Franz Kafka bisa dianggap mewakili sastra Jerman.

Pertimbangan Ketiga Cerpen

Ada beberapa pertimbangan yang disampaikan Sigit melalui Pengantar “Di Depan Pembaca” dalam buku terjemahan ini. Cerpen pertama, Di Depan Hukum ia pilih dengan pertimbangan cerpen ini sangat membetot nalar. Dikisahkan, ada orang desa yang polos hendak masuk ke pengadilan dihadang petugas di depan pintu masuk. Ia ditakut-takuti bahwa penjaga pintu yang lain lebih berkuasa. Orang desa itu patuh dan menunggu di depan pintu hingga bertahun-tahun, sampai akhirnya meninggal dunia dan pintu itu tertutup.

“Sepertinya Kafka hendak memotret dunia hukum yang carut marut di masa ia hidup di zaman kerajaan Habsburger: Austria – Hongaria,” tulis Sigit yang baru-baru ini juga menerbitkan novel Si Bolang dari Baon yang dalam penulisannya juga meminjam mode Kafka.

Kedua, lanjut Sigit, cerpen Sebuah Persilangan. Diceritakan, terdapat seekor binatang aneh separuh kambing muda dan kucing. Binatang piaraan ini warisan dari ayah. Kafka pernah menjelaskan kepada Gustav Janouch, penyair muda di Praha, tentang alasan membuat cerita fabel pada novelet Metamorfosis (Die Verwandlung).

Kafka menyebut, manusia kini sudah semakin dipenjara, antarmanusia semakin sulit berhubungan. Kemudian, timbul kerinduan baru manusia terhadap binatang. Namun, binatang ciptaan Kafka ini sangat eksentrik, bukan layaknya binatang tetapi persilangan. “Kreasi surealis yang dahsyat,” kata penerjemah Metamorfosa Samsa (Penerbit Baca, 2008).

Ketiga, cerpen Sang Penunggang Ember. Menurut Sigit, cerpen ini adalah kisah konyol tentang kelangkaan arang di masyarakat, sebagai alat pemanas ruangan di musim dingin. Seorang warga yang kehabisan arang itu bertandang mencari arang sambil menaiki ember itu ke penjual arang. “Kafka hendak menggambarkan dampak Perang Dunia I yang dirasakan warga, terutama jika musim dingin tiba, satu-satunya penghangat rua ngan di zaman itu adalah arang,” ungkap Sigit.

Ikhtiar Membumikan Bahasa Daerah

Indonesia tak hanya memiliki aneka ragam budaya dan suku, tetapi juga bahasa daerah. Tercatat, ada sekira 718 bahasa daerah tersebar di kepulauan Nusantara. Menurut Sigit, bahasa daerah adalah bahasa ibu kita dan bahasa yang dipakai sehari-hari dalam keluarga dan masyarakat. Kita dipertemukan dengan bahasa Indonesia lewat peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda 1928.

Hingga kini, umur bahasa Indonesia masih muda, yakni 96 tahun. Sementara, bahasa ibu atau bahasa daerah sudah ada sejak nenek moyang lahir atau ratusan tahun silam. Tugas kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta tak lupa tetap merawat dan membumikan bahasa daerah kita sendiri.

“Untuk itu, hadirnya tiga cerpen Kafka ke hadapan pembaca bahasa daerah di Tanah Air, sebagai upaya kecil untuk mengenalkan sastra dunia ke pembaca bahasa daerah,” tandas penulis Menyusuri Lorong-lorong Dunia ini. (her)