Presiden Joko Widodo Khawatir terhadap Peredaran Uang yang Semakin “Kering”; Apa Penyebabnya?

Uang Kertas
Ilustrasi/Istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Jelang berakhirnya masa jabatan, Presiden Joko Widodo ternyata memiliki rasa ketakutan tersendiri. Padahal sebelumnya, Jokowi dulu bilang bahwa dirinya adalah pemimpin yang tidak punya beban.

Belum lama ini, Jokowi sempat mengutarakan kekhawatirannya terhadap peredaran uang yang semakin kering meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sekitar 5%. Hal ini dia sampaikan menjelang akhir masa jabatan.

Jokowi menilai, masalah tersebut muncul karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan BI menerbitkan terlalu banyak instrumen, yakni Surat Berharga Negara (SUN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, dan Sekuritas Valas Bank Indonesia.

Untuk diketahui, data BI menunjukkan, posisi Uang beredar dalam arti luas, pada Desember 2023 tercatat sebesar Rp 8.824,7 triliun atau tumbuh 3,5% yoy. Angka pertumbuhan ini terpaut jauh dibanding kondisi September yang masih menyentuh angka 6% yoy.

Lalu, menjelang berakhirnya masa jabatan menjadi Presiden, Joko Widodo khawatir terhadap peredaran uang yang semakin kering, Apa penyebab keringnya uang? Serta bagaimana mengatasi kondisi tersebut?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMbak Ita Launching L1ON, Percepat Pelayanan Perizinan Bagi Nakes di Kota Semarang
Artikel selanjutnyaUrgensi Peningkatan Jumlah Dokter Spesialis di Indonesia terkait Kesiapan SDM Kesehatan dalam Memanfaatkan Bonus Demografi