ilustrasi

Semarang, Idola 92.6 FM-Akhir-akhir ini, publik ramai membicarakan istilah child grooming setelah sebuah buku memoar berjudul Broken Strings viral di media social. Buku yang ditulis oleh aktris Aurelie Moeremans ini membuka kisah relasi manipulatif yang ia alami sejak usia remaja dengan pria yang jauh lebih tua.

Sejak buku itu viral, banyak orang yang menyadari bahwa child grooming menjadi ancaman nyata dan bisa menimpa siapa saja. Maka, dalam beberapa hari terakhir, perbincangan tentang child grooming pun ramai di media sosial.

Buku yang dirilis pada Oktober 2025 itu mengisahkan pengalaman Aurelie terjebak dalam relasi manipulatif dengan seorang pria berusia jauh lebih tua. Child grooming adalah bentuk kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan secara bertahap melalui pendekatan emosional bukan ancaman atau kekerasan fisik. Grooming sering luput disadari karena prosesnya halus dan menyerupai hubungan pertemanan atau kasih sayang.

Dari situ, banyak orang mulai bertanya-tanya: ternyata apa yang selama ini dianggap hubungan romantis, perhatian, atau bimbingan, bisa jadi merupakan bentuk kekerasan seksual terhadap anak.

Lalu, apa sebenarnya child grooming itu? Bagaimana cara mengenali kejahatan child grooming? Mengapa sering tidak disadari? Apa dampaknya bagi korban, dan yang terpenting/ bagaimana cara mencegahnya? Dan, apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah child grooming?

Untuk membedah persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan dua narasumber: Linda Maysha (Psikolog), Ema Rachamawati (Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah), dan Dian Sasmita (Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)). (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: