ilustrasi

Semarang, Idola 92.6 FM-Beberapa hari terakhir, publik dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang begitu memilukan. Seorang anak Sekolah Dasar (SD) kelas 4 di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri. Bocah berusia 10 tahun ini disebut mengalami tekanan batin karena tidak mendapatkan uang sekitar sepuluh ribu rupiah untuk membeli buku dan pena—perlengkapan sekolah yang sangat sederhana.

Kisah ini segera menyebar luas dan menyentuh nurani banyak orang. Bukan semata karena usia korban yang masih sangat belia, tetapi karena tragedi ini membuka kembali potret rapuhnya kehidupan anak-anak di tengah kemiskinan ekstrem dan kerentanan sosial.

Latar belakang keluarga korban sangat memprihatinkan. Ia dibesarkan dalam keterbatasan, ditinggalkan ayahnya sejak dalam kandungan, diasuh ibu yang bekerja serabutan, dan tinggal bersama neneknya. Dalam situasi hidup seperti ini, sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan harapan masa depan, justru berubah menjadi sumber tekanan psikologis.

Kasus ini kerap disebut sebagai “alarm psikologis anak”—peringatan keras bahwa kondisi emosional anak-anak terutama di wilayah miskin dan terpinggirkan, sangatlah rentan.

Pertanyaannya kemudian: apa sesungguhnya yang terjadi? Apakah ini sekadar tragedi individual, atau cermin dari masalah struktural yang lebih besar—mulai dari sistem pendidikan, kemiskinan ekstrem, hingga lemahnya perlindungan sosial dan kesehatan mental anak?

Dalam diskusi kali ini, kita akan mencoba belajar dari peristiwa ini, menggali pelajaran berharga dari perspektif pendidikan dan sosiologi, sekaligus membicarakan langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar tragedi serupa tidak terulang.

Untuk mengurai persoalan ini secara jernih, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber: Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia dan dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ali Rif’an dan Pengamat Sosiologi Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Bagong Suyanto. (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: