
Semarang, Idola 92,6 FM-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah menyebut, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah terus diperluas, sebagai upaya menekan potensi kenaikan harga pangan
Terutama, menjelang periode meningkatnya permintaan masyarakat.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Andi Reina Sari mengatakan program GPM tidak hanya diinisiasi pemprov, tetapi juga didorong secara aktif pemkab/pemkot melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Awalnya GPM direncanakan oleh Pemprov, tetapi kabupaten dan kota juga berinisiatif melakukan kegiatan serupa. Mereka tidak menunggu harga naik, tetapi sudah melakukan GPM secara konsisten di titik-titik yang dinilai mulai mengalami kenaikan harga atau perlu dijaga stabilitasnya,” kata Andi Reina.
Andi Reina menjelaskan, jumlah pelaksanaan GPM di Jateng melampaui target awal yang diperkirakan sekira 227 kegiatan.
Hal ini dikarenakan, pemerintah daerah turut menambah frekuensi pelaksanaan GPM di wilayah masing-masing.
Menurutnya, data total pelaksanaan GPM masih dalam proses kompilasi karena kegiatan dilakukan secara masif berbagai daerah.
Meski demikian, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga untuk menentukan langkah pengendalian inflasi selanjutnya.
“Angka pastinya masih kami kompilasi, tetapi kegiatan GPM memang terus bertambah karena inisiatif daerah cukup tinggi. Perkembangannya juga akan menyesuaikan kondisi harga di lapangan,” jelasnya.
Lebih lanjut Andi Reina menjelaskan, pelaksanaan GPM difokuskan pada komoditas pangan yang memiliki bobot besar terhadap inflasi, khususnya kebutuhan pokok masyarakat.
Komoditas yang menjadi prioritas antara lain beras, minyak goreng, dan gula, yang termasuk dalam kelompok sembako.
“Komoditas yang difokuskan dalam GPM adalah yang bobotnya besar dalam perhitungan inflasi, seperti beras, minyak goreng, dan gula. Alhamdulillah untuk saat ini harga sembako relatif terjaga stabil,” pungkasnya. (Bud)














