Gubernur Ahmad Luthfi saat berdialog dengan pedagang cabai di Kota Surakarta, belum lama ini.

Semarang, Idola 92,6 FM-Kenaikan harga cabai rawit dan emas perhiasan, menjadi faktor utama pendorong inflasi Jawa Tengah pada Desember 2025.

BPS Jateng mencatat, inflasi bulanan (m-to-m) sebesar 0,5 persen,l dipicu kelompok makanan, minuman dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Statistisi Ahli Madya BPS Jateng Wisnu Nurdiyanto mengatakan inflasi Desember 2025, mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,43 pada November menjadi 109,98. Hal itu dikatakan melalui siaran pers secara daring, kemarin.

Menurutnya, inflasi Desember 2025 lebih tinggi dibandingkan November 2025 yang tercatat sebesar 0,19 persen.

Wisnu menjelaskan, secara tahunan (y-on-y) maupun tahun kalender (y-to-d), inflasi Jateng tercatat sebesar 2,72 persen.

Capaian tersebut, masih berada dalam kisaran target inflasi pemerintah 2025.

Inflasi tahunan masih sesuai dengan target nasional, sebesar 1,5 hingga 3,5 persen.

“Penyumbang inflasi terbesar secara bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 1,31 persen dan andil 0,38 persen. Kenaikan ini disebabkan lonjakan harga cabai rawit yang meningkat hingga 86 persen akibat tingginya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru, serta gangguan produksi dan distribusi karena cuaca ekstrem,” kata Wisnu.

Lebih lanjut Wisnu menjelaskan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen yang dipicu kenaikan harga emas perhiasan.

Sepanjang 2025, harga emas perhiasan cenderung meningkat karena emas menjadi aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

“Inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kota Semarang sebesar 2,84 persen, dan terendah di Kabupaten Rembang sebesar 2,47 persen. Sementara inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Wonogiri sebesar 0,79 persen, dan terendah di Kabupaten Rembang sebesar 0,26 persen,” pungkasnya. (Bud)