Penyelam PIS saat memasang tag tanda di seekor hiu paus.

Semarang, Idola 92,6 FM-Komitmen menjaga laut Indonesia, tak selalu hadir dalam bentuk slogan.

Perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, Pertamina International Shipping (PIS) membuktikannya hadir lewat langkah nyata dengan menandai empat ekor hiu paus—ikan terbesar di dunia yang kian rentan.

Aksi yang dilakukan pada November 2025 ini, menambah daftar upaya PIS yang dalam dua tahun terakhir telah berhasil menandai tujuh individu hiu paus di berbagai wilayah perairan Nusantara.

Empat hiu paus yang diberi nama Pride, Prime, Bangka dan Belitung itu ditandai melalui kolaborasi dengan Konservasi Indonesia.

Proses penandaan bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari kerja ilmiah untuk mempelajari pergerakan, habitat dan jalur migrasi satwa raksasa yang lembut ini.

Data tersebut menjadi kunci penting, untuk memahami bagaimana hiu paus hidup berdampingan dengan aktivitas manusia di laut.

Manager CSR PIS Alih Istik Wahyuni mengatakan langkah ini berangkat, dari kepedulian terhadap keberlanjutan ekosistem laut. Pernyataan itu disampaikan melalui siaran pers, kemarin.

Menurutnya, data hasil tagging akan membantu PIS menyesuaikan operasional pelayaran, agar lebih ramah terhadap kehidupan laut.

“Kami ingin memastikan kehadiran kapal-kapal PIS tidak justru menjadi ancaman bagi satwa penting di perairan Indonesia,” kata Alih.

Alih menjelaskan, isu tabrakan kapal dengan hiu paus menjadi perhatian serius.

Sejumlah penelitian menunjukkan, benturan dengan kapal besar menjadi salah satu penyebab kematian hiu paus dan penurunan populasinya.

“Dengan memetakan jalur migrasi hiu paus dan mengintegrasikannya dengan data pelayaran, kami berupaya meminimalkan risiko tersebut sekaligus berkontribusi langsung pada upaya konservasi,” jelasnya.

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Mochamad Iqbal Herwata Putra menyebut, populasi hiu paus global diperkirakan telah menurun lebih dari 50 persen akibat berbagai ancaman.

Mulai dari tabrakan kapal, polusi laut hingga perubahan iklim.

Ia menilai, kegiatan tagging di Derawan sebagai langkah penting untuk mengumpulkan data jangka panjang yang dapat melindungi spesies terancam punah ini dan mendukung peluang pemulihannya di masa depan. (Bud)