
Semarang, Idola 92,6 FM-Harga komoditas cabai di sejumlah pasar tradisional Kota Semarang masih terpantau tinggi.
Kondisi ini dipengaruhi faktor cuaca yang masih sering diguyur hujan, sehingga berdampak pada pasokan dari sentra produksi.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan harga cabai memang cukup fluktuatif, dan sulit dikendalikan karena bergantung pada ketersediaan pasokan di lapangan. Hal itu dikatakan saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Johar dan Pasar Kanjengan didampingi Pemimpin Bulog Kantor Wilayah Jawa Tengah Sri Muniati, Jumat (27/2).
Menurut Rizal, harga acuan yang beredar merupakan harga yang dirilis Dinas Perdagangan masing-masing daerah.
Namun, harga riil di lapangan bisa berbeda, tergantung kondisi pasokan dan permintaan.
“Memang harga yang ditentukan itu dari Dinas Perdagangan. Tapi khusus cabai, pergerakannya tidak bisa kita kontrol mingguan. Bahkan bukan per hari, bisa per jam berubah,” kata Rizal.
Rizal mencontohkan, harga cabai rawit yang secara acuan tercatat Rp40 ribu per kilogram, di lapangan bisa mencapai Rp80 ribu per kilogram.
Kenaikan tersebut terjadi, ketika pasokan berkurang akibat cuaca hujan yang menghambat distribusi maupun produksi di tingkat petani.
“Kalau stok datang banyak, langsung turun. Tapi begitu pasokan tidak ada karena hujan dan sebagainya, harganya bisa melambung tinggi sekali,” jelasnya.
Rizal meminta masyarakat memahami karakteristik komoditas cabai, yang memang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kelancaran distribusi.
Bulog mengakui, pengendalian harga cabai relatif lebih sulit dibandingkan komoditas pangan pokok lainnya.
“Bulog akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait, untuk memantau perkembangan harga dan pasokan di pasar, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri, guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” pungkasnya. (Bud)














