ilustrasi.

Semarang, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras pada tahun 2025. Pengumuman ini disampaikan Presiden dalam acara Panen Raya di Karawang, beberapa waktu lalu.

Capaian ini tentu bukan sekadar seremonial. Data Badan Pusat Statistik mencatat, produksi beras nasional pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 34,77 juta ton. Angka ini mencerminkan peningkatan produktivitas di tingkat petani sekaligus memperkuat Cadangan Beras Pemerintah yang kini berada di kisaran 3,2 juta ton—sebuah capaian historis mengingat selama bertahun-tahun cadangan beras nasional kerap berada di bawah 2 juta ton.

Lebih dari itu, keberhasilan swasembada beras ini juga ditandai dengan kebijakan strategis pemerintah yang menghentikan impor beras medium sepanjang tahun 2025. Ini sebuah langkah berani–mengingat pada tahun sebelumnya Indonesia masih mengimpor jutaan ton beras dari berbagai negara.

Lalu, pertanyaannya, apakah swasembada beras ini akan berhenti sebagai capaian jangka pendek atau justru menjadi fondasi kemandirian pangan yang berkelanjutan? Tantangan apa yang harus dihadapi agar status swasembada ini bisa dipertahankan, di tengah tekanan perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga dinamika pasar global?

Untuk memaknai capaian ini sekaligus mengurai tantangan ke depan, radio Idola Semarang berdiskusi bersama dua narasumber yakni Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavare dan Rektor Universitas Muria Kudus & Pengamat Pertanian, Prof Darsono. (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: