Semarang, Idola 92,6 FM-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kondisi sistem keuangan Indonesia hingga akhir 2025 tetap resilien di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pernyataan itu disampaikan melalui siaran pers, kemarin.
Menurut Purbaya, hal ini ditopang koordinasi dan sinergi kebijakan yang kuat antara pemerintah, Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“Hasil asesmen KSSK pada triwulan IV 2025 menunjukkan kondisi fiskal, moneter dan sektor keuangan nasional tetap terjaga. Meski pada awal 2026 volatilitas pasar keuangan global sempat meningkat akibat ketegangan geopolitik dan perang dagang, KSSK terus melakukan pemantauan dan langkah mitigasi secara terkoordinasi agar stabilitas tetap terjaga,” kata Purbaya.
Purbaya menjelaskan, di sisi global, perekonomian dunia masih menghadapi tantangan, termasuk perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan dampak lanjutan kebijakan tarif impor.
Namun, pemangkasan suku bunga acuan The Fed dinilai memberi ruang bagi aliran modal ke negara berkembang.
Dana Moneter Internasional (IMF) juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen pada 2025 dan 2026.
“Perekonomian Indonesia dinilai tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,2 persen dan berpotensi meningkat menjadi 5,4 persen pada 2026. Kinerja tersebut didorong oleh permintaan domestik yang solid, inflasi yang terkendali, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang sejalan,” jelasnya.
Lebih lanjut Purbaya menjelaskan, dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia juga tetap baik.
Cadangan devisa hingga akhir Desember 2025 tercatat sebesar USD156,5 miliar, setara 6,3 bulan impor.
Meski nilai tukar rupiah sempat tertekan akibat gejolak global, namun fundamental ekonomi yang kuat menjadi modal utama untuk menjaga stabilitas ke depan.
“APBN terus berperan sebagai peredam guncangan ekonomi melalui belanja negara yang efektif dan tepat sasaran. Belanja tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional di tengah dinamika global yang masih berlanjut,” pungkasnya. (Bud)







