Politik luar negeri Indonesia kini memasuki babak baru. Lebih nyata dan lebih tegas. Arah kebijakan luar negeri Indonesia kini tampak lebih jelas. Banyak langkah yang dulu terasa lambat, kini bergerak cepat. Indonesia tidak lagi hanya hadir, tetapi juga memimpin percakapan global. Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, dalam siaran tertulisnya, Rabu (18/2). (Foto Dok. Istimewa)

Jakarta, Idola 92.6 FM-Politik luar negeri Indonesia kini memasuki babak baru. Lebih nyata dan lebih tegas. Arah kebijakan luar negeri Indonesia kini tampak lebih jelas. Banyak langkah yang dulu terasa lambat, kini bergerak cepat. Indonesia tidak lagi hanya hadir, tetapi juga memimpin percakapan global.

Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, dalam siaran tertulisnya, Rabu (18/2).

Menurut Agung Baskoro, dalam beberapa bulan terakhir, posisi Indonesia makin diperhitungkan. Di UN Human Rights Council, Indonesia dipercaya menjadi ketua. Indonesia juga masuk ke dalam BRICS, klub negara ekonomi besar yang menjadi pusat perhatian dunia.

“Tidak hanya itu, Indonesia juga hadir sebagai tamu kehormatan negara-negara besar di dunia, seperti Prancis, Tiongkok, dan India. Semua itu menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia kini punya daya tarik baru,” kata Agung.

Menurutnya, langkah terbaru Presiden Prabowo adalah kunjungan ke luar negeri untuk menandatangani Agreement on Reciprocal Trade atau ART. Ia juga bertemu Presiden Donald Trump dalam forum Board of Peace. Dua agenda ini mencerminkan arah diplomasi yang tidak hanya simbolik, tetapi juga konkret.

Ia menambahkan, perjanjian perdagangan resiprokal yang akan ditandatangani merupakan kesepakatan yang bertujuan menciptakan hubungan perdagangan yang lebih adil. Indonesia berhasil menurunkan tarif dagang dengan Amerika Serikat. Dampaknya bisa langsung terasa. Produk Indonesia lebih mudah masuk pasar besar. Ekspor meningkat. Lapangan kerja terbuka. Ini bukan diplomasi basa-basi, melainkan diplomasi yang menyentuh dapur rakyat.

Hal yang sama juga terlihat dari keberhasilan menandatangani CEPA dengan Uni Eropa. Kesepakatan ini membuka peluang besar bagi produk Indonesia. Industri nasional bisa naik kelas. Investasi pun semakin deras.

“Semua itu adalah bukti bahwa perjalanan luar negeri presiden bukan sekadar kunjungan seremonial,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Agung, keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) memberi dimensi baru. Indonesia tidak hanya bicara soal ekonomi, tetapi juga perdamaian. Dengan posisi ini, Indonesia punya kesempatan berperan dalam konflik global, termasuk isu Palestina dan Israel. Gagasan two state solution bisa didorong dengan pendekatan yang lebih kredibel.

“Di BoP, Indonesia memiliki ruang langsung untuk berdialog, berunding dengan Amerika Serikat dan Israel untuk perdamaian di Gaza. Ini bentuk langkah konkret,” tuturnya.

Menurut Agung, peran sebagai juru damai bukan hal baru bagi Indonesia. Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai negara yang aktif dalam diplomasi perdamaian. Namun, di era Presiden Prabowo, pendekatannya terasa lebih agresif. Indonesia tidak menunggu undangan. Indonesia datang dengan tawaran solusi.

Gaya diplomasi ini membuat Indonesia dilihat sebagai negara yang punya arah jelas. Bukan sekadar mengikuti arus. Indonesia kini ikut membentuk arus itu sendiri. Ini perubahan penting dalam citra internasional Indonesia.

Menurut Agung, banyak negara kini memandang Indonesia sebagai mitra strategis. Bukan hanya karena jumlah penduduknya besar, tetapi juga karena kepemimpinannya yang tegas. Indonesia dianggap mampu menjembatani kepentingan Timur dan Barat. Di tengah dunia yang makin terpolarisasi, posisi ini sangat berharga.

“Tentu masih banyak pekerjaan rumah. Tantangan ekonomi global tidak mudah. Konflik geopolitik juga semakin kompleks. Namun, arah yang diambil saat ini menunjukkan optimisme. Diplomasi tidak lagi sekadar menjaga hubungan baik, tetapi juga mencari keuntungan nyata bagi rakyat,” jelasnya.

Agung melihat, era baru politik luar negeri Indonesia tampaknya memang sedang dimulai. Lebih aktif, lebih berani, dan lebih strategis.

“Jika konsistensi ini dijaga, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama di panggung dunia, bukan hanya penonton. Dan itu adalah kabar baik bagi masa depan bangsa,” tandasnya. (her/dav)