Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto menunjukkan peta sebaran potensi longsor di wilayah Jateng.

Semarang, Idola 92,6 FM-Dinas ESDM Jawa Tengah memastikan, bencana tanah longsor yang terjadi di lereng Gunung Slamet, khususnya di Kabupaten Pemalang dan Purbalingga bukan disebabkan aktivitas pertambangan.

Kepastian tersebut diperoleh berdasarkan hasil tinjauan lapangan, serta kajian teknis yang dilakukan ESDM Jateng.

Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto mengatakan longsor dipicu faktor alam berupa curah hujan ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari berturut-turut, sehingga menyebabkan tanah jenuh air dan menurunnya kestabilan lereng. Hal itu dikatakan saat ditemui di Semarang, kemarin.

Menurut Agus, longsoran terjadi pada lereng-lereng terjal di Gunung Slamet akibat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang.

Agus menjelaskan, tanah di kawasan tersebut memiliki porositas tinggi dan mudah menyerap air.

Ketika kondisi tanah mencapai titik jenuh, ditambah kemiringan lereng yang curam, maka risiko longsor tidak terhindarkan.

Selain curah hujan, faktor litologi atau jenis batuan yang mudah lapuk turut memperbesar potensi gerakan tanah.

“Terkait isu keterkaitan pertambangan, kami menegaskan bahwa tidak ada aktivitas tambang yang berada di tubuh Gunung Slamet. Lokasi pertambangan berada di bagian kaki gunung dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik mahkota longsoran. Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor. Tidak ada pertambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet,” kata Agus.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, Dinas ESDM Jateng secara rutin menyampaikan informasi potensi gerakan tanah kepada seluruh bupati dan wali kota di provinsi ini setiap bulan, terutama selama musim hujan.

Informasi tersebut disusun berdasarkan overlay peta rawan longsor, dengan data prakiraan cuaca dan curah hujan dari BMKG.

“Setiap bulan kami merilis peta potensi gerakan tanah yang dilengkapi tabulasi curah hujan dan tingkat kerawanan, mulai dari rendah hingga tinggi. Ini kami sebarkan sebagai peringatan dini agar daerah meningkatkan kewaspadaan,” pungkasnya. (Bud)