ilustrasi/jawapos

Semarang, Idola 92.6 FM-Tahun 2026 menghadirkan sebuah perjumpaan waktu yang jarang terjadi. Tahun Baru Imlek dirayakan pada 17 Februari dan hanya berselang satu hingga dua hari kemudian, umat Muslim memasuki bulan suci Ramadan. Dua perayaan besar, dua tradisi spiritual yang berbeda, hadir beriringan dalam satu ruang waktu yang sama.

Di tengah hiruk-pikuk geopolitik global, ketidakpastian ekonomi, dan berbagai persoalan sosial di dalam negeri, perjumpaan Imlek dan Ramadan seolah menjadi undangan sunyi untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Bukan sekadar soal kalender tetapi tentang makna hidup bersama dalam keberagaman.

Dalam tradisi Tionghoa, tahun 2026 dikenal sebagai Tahun Kuda Api—simbol energi, keberanian, dan dorongan untuk terus bergerak maju. Sementara Ramadan mengajarkan pengendalian diri, keheningan batin, dan keikhlasan. Dua nilai yang tampak berbeda, namun justru saling melengkapi: satu mendorong gerak, yang lain memberi arah.

Indonesia sering menyebut dirinya bangsa majemuk, bangsa yang menjunjung tinggi toleransi dan harmoni. Namun kenyataannya, praktik keberagaman itu tidak selalu mudah. Kita masih menyaksikan kasus intoleransi, diskriminasi, hingga krisis keteladanan yang menggerus kepercayaan sosial. Semua ini membuat kita patut bertanya: seberapa kokoh sebenarnya rajutan kebersamaan yang kita miliki?

Dalam konteks itulah, perjumpaan Imlek dan Ramadan tahun ini menjadi momentum refleksi bersama. Sebuah kesempatan untuk melihat bahwa harmoni bukan berarti menyamakan semua perbedaan melainkan memberi ruang agar perbedaan bisa hidup berdampingan dengan saling menghormati.

Pemandangan lampion merah yang tetap menyala ketika umat Muslim bersiap tarawih, atau suasana saling menjaga kenyamanan satu sama lain, adalah simbol sederhana namun kuat tentang Indonesia yang kita cita-citakan.

Lalu, memaknai perjumpaan dua perayaan ini dari dimensi kultural, spiritual, dan kebangsaan, bagaimana nilai-nilai Imlek dan Ramadan bisa memperkuat harmoni keberagaman di Nusantara? Dan apa tantangan kita ke depan dalam merawatnya?

Untuk mengulas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber: Harjanto Halim (Pengusaha/ CEO dari PT Marimas Putera Kencana Semarang) dan Min Hajulabidin (Dosen Psikologi Unesa Surabaya/ Mahasiswa S3 ECUST Shanghai). (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: