Semarang, Idola 92.6 FM-Awal tahun 2026 ini, Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan jajaran Menteri dan Wakil Menteri dalam Taklimat Awal Tahun 2026 di Hambalang. Bukan sekadar pengarahan rutin, Presiden memaparkan sebuah visi besar yang ia sebut sebagai “Strategi Transformasi Bangsa.”

Strategi ini diklaim sebagai hasil perenungan dan kajian panjang, dengan satu tujuan utama: membawa Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri. Presiden menegaskan di tengah konflik global dan ketidakpastian dunia, ketergantungan pada impor justru menjadi risiko serius bagi kedaulatan nasional.

Fondasi awal dari strategi ini jelas: swasembada pangan dan swasembada energi. Bahkan, Presiden menyampaikan capaian penting bahwa per 31 Desember 2025, Indonesia resmi mencapai swasembada beras, dengan cadangan nasional menembus lebih dari 3 juta ton—angka tertinggi sepanjang sejarah republik.

Tak hanya itu, program Makan Bergizi Gratis yang genap berjalan satu tahun hari ini telah menjangkau 55 juta penerima manfaat–sebuah lompatan yang disebut jauh lebih cepat dibandingkan negara-negara lain.

Lalu, pertanyaannya kemudian, bagaimana kita membaca “Strategi Transformasi Bangsa” ini secara utuh? Apakah strategi ini cukup kuat untuk menjadi “spirit” dan panduan nyata bagi jajaran kabinet dalam bekerja? Dan, tantangan apa saja yang berpotensi menghadang implementasinya di lapangan?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber: Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskorodan Pengamat komunikai politik, Hendri Satrio. (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: