Warga menuntun sepeda di tengah banjir melanda di Kabupaten Pati pada Januari 2026. (Photo/Lingkarnews)

Semarang, Idola 92.6 FM-Banjir besar kembali melanda wilayah Pantai Utara Jawa Tengah. Namun, banjir kali ini terasa berbeda—lebih luas, lebih lama surutnya, dan dampaknya tidak hanya dirasakan warga di permukiman/ tapi juga melumpuhkan jalur vital transportasi nasional.

Sejak lebih dari sepekan terakhir, banjir di wilayah pantura timur hingga barat Jawa Tengah belum juga surut. Di Kabupaten Pati saja, tercatat 127 desa di 20 kecamatan terdampak. Ribuan warga mengungsi/ puluhan ribu jiwa terdampak, ribuan rumah terendam, lahan pertanian dan tambak terancam gagal panen.

Bahkan, banjir ini sampai mengganggu jalur kereta api. Puluhan perjalanan KA dibatalkan dan dialihkan. Ini menunjukkan bahwa banjir bukan lagi persoalan lokal tapi sudah menjadi persoalan sistemik yang berdampak luas—ekonomi, mobilitas, hingga ketahanan wilayah.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah menilai, banjir yang terus berulang ini tak bisa dilepaskan dari kegagalan tata ruang, penurunan daya dukung lingkungan, serta kebijakan pembangunan yang mengabaikan kawasan hulu dan daerah tangkapan air.

Lalu pertanyaannya, setelah banjir parah ini, refleksi apa yang seharusnya kita lakukan bersama? Evaluasi seperti apa yang mendesak dilakukan– khususnya terkait tata ruang dan kebijakan pembangunan? Dan langkah konkret apa yang bisa dan harus segera dilakukan agar dampak banjir ke depan bisa dikurangi atau kalau bisa dihilangkan?

Untuk membedah persoalan ini secara lebih jernih dan reflektif, radio Idola Semarang mengajak diskusi dua narasumber, yakni: Hotmauli Sidabalok, PhD (Pengamat Lingkungan dari Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Soegijapranata Catholic University Semarang) dan Nur Cholis (Deputi Direktur WALHI Jawa Tengah). (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: