Semarang, Idola 92,6 FM-Berdasarkan CNBC Indonesia Research, Jawa Tengah menempati daftar teratas provinsi dengan total pendapatan objek daya tarik wisata komersial tertinggi.
Artinya, sektor pariwisata Jateng terus menunjukkan peningkatan performa.
Hal ini sejalan dengan tingginya jumlah kunjungan wisatawan, yang datang ke berbagai destinasi populer di Jateng.
Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan strategi pengembangan pariwisata di Jateng, menitikberatkan pada keterpaduan antarwilayah (aglomerasi) serta penguatan potensi desa wisata. Hal itu dikatakan saat ditemui di kantornya, kemarin.
Luthfi menjelaskan, kondisi tersebut telah memberikan dampak cukup baik terhadap pertumbuhan sektor pariwisata, dan menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).
Oleh karenanya, salah satu upaya untuk menaikkan PAD di antaranya dengan memerkuat dan memerbanyak obyek wisata.
Menurutnya, Jateng memiliki keunggulan komparatif melalui pengembangan kawasan aglomerasi pariwisata yang terintegrasi.
Beberapa di antaranya Kopeng, Rawa Pening (Kabupaten Semarang), serta kawasan Borobudur (Kabupaten Magelang).
“Jawa Tengah juga mengandalkan pengembangan desa wisata, sebagai tulang punggung pemerataan ekonomi pariwisata. Kita punya aglomerasi wisata Kopeng, Borobudur, sama Rawa Pening. Kita punya seribu desa wisata,” kata Luthfi.
Lebih lanjut Luthfi menjelaskan, pengembangan desa wisata dilakukan secara bertahap dan berjenjang.
Desa wisata yang awalnya berskala lokal, didorong untuk naik kelas menjadi destinasi regional, hingga internasional.
Berdasarkan data BPS, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Jateng pada 2024 mencapai 68,88 juta orang atau meningkat 22 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara kunjungan wisatawan mancanegara, naik 28 persen menjadi 593.168 orang. (Bud)








