Semarang, Idola 92,6 FM-Ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Semarang, masih menjadi persoalan serius.
Kompleksitas modus peredaran yang kini banyak memanfaatkan adalah media sosial, serta menyasar kalangan muda dan mendorong Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah memerkuat sinergi dengan Pemkot Semarang.
Kepala BNNP Jateng Toton Rasyid mengatakan Kota Semarang, termasuk daerah dengan tingkat kerawanan narkoba yang cukup tinggi. Pernyataan itu disampaikan melalui siaran pers, kemarin.
Menurutnya, kondisi ini terlihat dari daya ungkap kasus narkoba yang cukup tinggi dibandingkan wilayah lain di Jateng.
“Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, baru sembilan yang memiliki BNN kabupaten/kota. Artinya, peran BNNP masih sangat dominan, termasuk dalam penanganan kasus di Kota Semarang,” kata Toton Rasyid.
Toton menjelaskan, pola peredaran narkoba saat ini semakin dinamis.
Media sosial menjadi salah satu sarana utama transaksi, dengan mayoritas pengguna berasal dari kalangan generasi muda.
“Jalur masuk narkotika, khususnya jenis sabu, banyak berasal dari Kalimantan dan Malaysia, dengan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang kerap dimanfaatkan sebagai lokasi transit. Sebagian besar penghuni rumah tahanan di Indonesia merupakan kasus narkoba. Karena itu, pencegahan harus menjadi fokus utama agar generasi muda tidak terjerumus,” jelasnya.
Sementara Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyambut baik langkah penguatan kolaborasi tersebut, karena kasus narkoba di Kota Semarang menunjukkan tren yang perlu mendapat perhatian khusus.
“Permasalahan narkoba tidak bisa ditangani satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama lintas perangkat daerah agar upaya pencegahan lebih efektif,” ucapnya.
Menurut Agustina, Pemkot Semarang siap melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah, seperti Dinas Pendidikan, Kesbangpol, Satpol PP hingga Dishub untuk melakukan edukasi dan sosialisasi bahaya narkoba, terutama di lingkungan sekolah menengah pertama (SMP). (Bud)















