Pembangunan hunian sementara modular (huntara modular) bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, terus berjalan sesuai jadwal. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menjelaskan, proyek ini diharapkan dapat segera ditempati, sehingga warga terdampak bencana tidak lagi bertahan di tempat pengungsian saat Ramadan dan bisa menyambut Idulfitri di hunian yang lebih layak. Hal itu disampaikan Menteri PU, Rabu (11/2). (Foto Dok. Bakom Pemerintah RI)

Bener Meriah, Idola 92.6 FM-Pembangunan hunian sementara modular (huntara modular) bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, terus berjalan sesuai jadwal.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menjelaskan, proyek ini diharapkan dapat segera ditempati, sehingga warga terdampak bencana tidak lagi bertahan di tempat pengungsian saat Ramadan dan bisa menyambut Idulfitri di hunian yang lebih layak.

“Progresnya masih sesuai schedule. Insya Allah minggu pertama Ramadan ini bisa selesai,” kata Menteri PU, dalam siaran persnya, Rabu (11/2).

Huntara modular tersebut dibangun di atas lahan seluas 30.000 meter persegi atau sekitar tiga hektare. Total luas bangunan mencapai 4.855 meter persegi, yang terdiri dari 19 blok hunian.

Setiap blok disusun menggunakan sistem konstruksi modular baja prefabrikasi, dengan total 228 modul hunian yang disiapkan untuk menampung 228 kepala keluarga.

Metode konstruksi modular dipilih untuk mempercepat proses pembangunan tanpa mengurangi kualitas bangunan. Dengan sistem ini, unit hunian dapat dirakit lebih cepat di lokasi, sehingga target dapat tercapai sesuai rencana.

Bagi para warga terdampak, kehadiran huntara ini menjadi harapan baru setelah berbulan-bulan hidup dalam kondisi serba terbatas.

Fasilitas Huntara

Selain unit hunian, kawasan huntara modular juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kebutuhan dasar penghuni. Area non-hunian seluas 2.210 meter persegi disiapkan untuk fasilitas sanitasi, selasar, serta ruang aktivitas bersama.

Secara keseluruhan, tersedia 114 unit shower dan 114 unit kloset, termasuk empat unit fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas.

Kawasan ini juga dilengkapi hunian ramah difabel, toilet difabel, area multifungsi, area parkir, serta mushola untuk menunjang aktivitas sosial dan ibadah penghuni.

Sistem pendukung hunian disiapkan secara terpadu, mulai dari penyediaan air bersih hingga listrik. Kebutuhan air bersih dipasok dari sumur bor sedalam sekitar 52 meter yang dibangun Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Aceh.

Sementara itu, pengolahan air kotor dilakukan menggunakan biotank, dan suplai listrik disediakan oleh PLN.

Dengan dukungan fasilitas yang lebih lengkap, huntara modular ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat berteduh sementara, tetapi juga ruang hidup yang layak bagi warga terdampak hingga hunian tetap mereka tersedia.

Targetnya, para masyarakat terdampak bencana bisa melewati Ramadan dengan lebih nyaman dan menyambut Lebaran di tempat tinggal yang aman dan bermartabat. (her/dav)