Safitri Yanti, bersama anaknya usai menjalani pemeriksaan di RSUP dr Kariadi Semarang.

Semarang, Idola 92,6 FM-Bagi seorang ibu, tak ada yang lebih berharga selain kesehatan anaknya.

Safitri Yanti warga Salatiga, memahami betul makna perjuangan itu.

Sejak enam tahun lalu, hidupnya berubah ketika sang buah hati, Andira Naifa Fadila, didiagnosis mengidap talasemia.

Ketika berada di tengah perjalanan panjang dan melelahkan tersebut, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi sandaran yang membuatnya tak merasa sendirian.

Gejala awal yang dialami Andira, tak pernah Yanti lupakan.

Saat usianya baru menginjak 18 bulan, Andira kerap sakit tanpa sebab yang jelas.

Batuk, pilek, demam berkepanjangan, mimisan, tubuh yang lemas hingga wajah yang semakin pucat membuat hati Yanti terus diliputi kecemasan.

“Saat itu anak saya sering sakit, panasnya tidak turun-turun. Badannya lemas dan wajahnya pucat sekali,” kata Yanti saat ditemui di RSUD dr Kariadi, kemarin.

Kekhawatiran itu akhirnya membawanya ke puskesmas.

Dari sana, Andira dirujuk ke Rumah Sakit Daerah Salatiga.

Hasil pemeriksaan darah menjadi titik balik kehidupan mereka: Andira didiagnosis talasemia, penyakit kelainan genetik yang menyebabkan produksi sel darah merah tidak normal.

“Setelah tes darah, anak saya harus dirawat inap tiga hari. Lalu dirujuk lagi ke RSUP dr Kariadi Semarang untuk transfusi darah dan dirawat lima hari,” ujarnya

Sejak saat itu, perjalanan Salatiga-Semarang menjadi rutinitas bulanan bagi Yanti dan Andira.

Panas terik maupun hujan, tak pernah menghalangi langkahnya untuk memastikan sang anak mendapatkan transfusi darah secara rutin.

Yanti bersyukur, keluarganya terdaftar sebagai peserta JKN.

Program tersebut menjadi penolong besar, terutama setelah ia memutuskan berhenti bekerja demi fokus merawat Andira, sementara keluarga hanya mengandalkan penghasilan sang suami.

“Kalau tidak ada JKN, saya tidak bisa membayangkan berapa biaya yang harus kami keluarkan. Transfusi darah dan perawatan rutin tentu tidak sedikit,” imbuhnya.

Kini, fokus Yanti hanya satu: memastikan Andira menjalani perawatan rutin dengan baik.

Ia berharap, program JKN terus hadir dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Bagi saya, JKN bukan sekadar program. JKN adalah penopang dan harapan kami untuk terus berjuang demi kesehatan anak,” pungkasnya. (Bud)