Semarang, Idola 92,6 FM-Pagi Natal di Lapangan Pancasila, Kota Salatiga, menghadirkan kehangatan yang melampaui jarak.
Dari ribuan jemaat yang beribadah bersama, hadir wajah-wajah perantau yang menemukan keluarga baru dalam kebersamaan.
Salah satunya Ansyel Wulantika Anthe, mahasiswi asal Provinsi Maluku Utara.
Natal tahun ini menjadi pengalaman pertamanya, merayakan ibadah Natal bersama di ruang terbuka Salatiga.
Sejak fajar, Ansyel datang bersama rekannya, Ester Putri Margareth Kanalebe, mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur.
“Saya kuliah di Salatiga dan kali ini tidak pulang. Ini pertama kali ikut Natal bersama di Salatiga,” kata Ansyel usai ibadah, kemarin.
Melewati kesibukan menyelesaikan studi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), momen Natal bersama menjadi pengobat rindu pada keluarga di kampung halaman.
Kebersamaan dengan teman-teman, membuat perayaan terasa lebih hangat meski jauh dari rumah.
“Tentunya sangat berkesan sekali bisa berada di sini. Walaupun jauh dari keluarga, tapi masih ada momen bersama teman-teman, jadi tidak terlalu merasakan sedih saat Natal,” jelasnya.
Ansyel juga mengaku nyaman hidup di Salatiga, kota kecil yang dikenal dengan toleransi antarumat beragamanya.
Ansyel menilai, predikat Salatiga sebagai kota paling toleran berdasarkan laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2024 yang dirilis Setara Institute pada Mei 2025 bukan sekadar angka.
“Saya merasa memang betul toleransinya cukup tinggi. Di lingkungan kami, terutama di kampus, sangat beragam etnis dan agamanya,” imbuhnya.
Lapangan Pancasila Salatiga pagi itu, Natal bukan sekadar perayaan.
Lapangan Pancasila menjadi ruang temu, tempat rindu dipeluk, perbedaan dirayakan dan toleransi dihidupi dalam kebersamaan. (Bud)















