Semarang, Idola 92.6 FM-Dinamika politik nasional kembali menghadirkan fenomena menarik di awal tahun 2026. Dua partai politik baru dideklarasikan, dan secara terbuka—bahkan sejak awal kelahirannya langsung menentukan arah dukungan calon presiden untuk Pilpres 2029.
Dua partai itu yakni Partai Gema Bangsa dan dan Partai Gerakan Rakyat. Partai Gema Bangsa menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto sementara Partai Gerakan Rakyat memosisikan diri sebagai partai pendukung Anies Baswedan.
Lazimnya, dukung-mendukung capres terjadi menjelang tahapan pemilu, setelah partai mengikuti verifikasi, pemilu legislatif, serta melalui berbagai dinamika politik dan koalisi. Namun, kali ini berbeda.
Sejumlah pengamat menilai, fenomena ini sebagai sinyal bahwa politik Indonesia mulai memasuki era baru—yang disebut sebagai era “early booking” Pilpres. Artinya, partai politik bahkan belum memiliki kursi di parlemen tetapi sudah menjual kepastian arah dukungan presidensial bukan lagi soal ideologi atau program, melainkan soal berada di kubu siapa.
Fenomena ini juga memunculkan pertanyaan lebih besar: Apakah ini menandai pergeseran fungsi partai politik? Dari yang semula menjadi ruang kaderisasi dan perumusan gagasan, menjadi sekadar kendaraan elektoral bagi figur tertentu? Atau justru ini strategi adaptif partai baru di tengah pasar politik yang semakin padat dan kompetitif?
Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro. (her/yes/dav)
Simak podcast diskusinya:








