Sakina Rosellasari, Kepala DPMPTSP Jateng.

Semarang, Idola 92,6 FM-Realisasi investasi di Jawa Tengah pada 2025 kemarin, mencapai Rp88,50 triliun dan naik dari target yang ditetapkan sebesar Rp78,33 triliun.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng menyebut, sektor industri padat modal mulai mengejar capaian investasi sektor alas kaki yang selama ini dikenal padat karya.

Kepala DPMPTSP Jateng Sakina Rosellasari mengatakan selama ini di provinsi ini identik dengan ekosistem investasi industri alas kaki, namun belakangan, sektor-sektor dengan nilai investasi besar mulai melirik Jateng. Hal itu dikatakan saat ditemui di kantornya, kemarin.

Sakina menjelaskan, salah satu contohnya adalah pembangunan pabrik anoda baterai di KEK Kendal dengan nilai investasi Rp1,5 triliun.

Selain itu, terdapat penanaman modal dari industri ban di Jatengland Demak senilai Rp1,08 triliun.

Menurutnya, pemerintah memastikan pelayanan optimal, baik bagi investasi padat modal yang mendongkrak nilai investasi, maupun padat karya yang menyerap tenaga kerja dan menekan angka pengangguran.

“Ada realisasi investasi yang memang signifikan di sektor padat modal. Mulai dari fiber optik, alat kesehatan, hingga industri karet dan plastik serta baterai. Kami menginginkan keduanya berjalan seiring. Sejumlah kawasan industri memang sudah dilirik sektor padat modal, namun sektor padat karya tetap kami harapkan, karena ekosistem industri alas kaki kuat di Jawa Tengah,” kata Sakina.

Lebih lanjut Sakina menjelaskan, terkait capaian penanaman modal pada 2025 kemarin, realisasi investasi, terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun.

Dari realisasi tersebut, ada 105.078 proyek dengan penyerapan tenaga kerja Indonesia mencapai 418.138 orang.

“Lima besar sektor realisasi investasi meliputi industri barang dari kulit dan alas kaki (Rp11,37 triliun), industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam (Rp9,70 triliun), industri karet dan plastik (Rp8,96 triliun), industri tekstil (Rp7,97 triliun), serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran (Rp7,47 triliun),” pungkasnya. (Bud)