Widi Hartanto, Kepala DLHK Jateng.

Semarang, Idola 92,6 FM-Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, disebabkan sejumlah faktor.

Selain tingginya curah hujan, kombinasi antara kerapatan jaringan aliran sub- Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tinggi, kelerengan yang sangat curam dan jenis tanah latosol coklat adalah penyebab utama terjadinya tanah longsor.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah Widi Hartanto mengatakan berdasarkan analisa yang dilakukan, terjadi curah hujan ekstrem dengan durasi lama pada 23-24 Januari 2026. Hal itu dikatakan saat ditemui di Semarang, kemarin.

Menurut Widi, saat itu curah hujannya mencapai 100-150 mm per hari di wilayah hulu (lereng Gunung Slamet), sehingga menyebabkan peningkatan debit air secara drastis.

“Idealnya curah hujan normal per hari itu sampai 50 mm. Debit air tinggi itu berpengaruh terhadap banjir,” kata Widi.

Widi menjelaskan, di Wilayah seperti Kecamatan Pulosari dan Moga di Kabupaten Pemalang, berada di Sub DAS Penakir atau bagian dari hulu Sub DAS Gintung.

Dominasi kemiringan lerengnya kategori agak curam hingga sangat curam, mencapai kurang lebih 64 persen, sehingga meningkatkan kecepatan limpasan permukaan dan daya kikis aliran.

“Sub-DAS Penakir rentan terhadap terjadinya erosi lahan dan longsor lereng di bagian hulu–tengah. Dampak lanjutannya, berupa peningkatan muatan sedimen dan pendangkalan sungai di bagian hilir. Berdasarkan catatan, sejak tahun 2022 sudah banyak titik longsoran di kawasan lereng Gunung Slamet,” jelasnya.

Lebih lanjut Widi menjelaskan, kawasan Sub DAS Penakir didominasi tanah latosol.

Karakteristik tanah kawasan Sub DAS Penakir rentan terhadap erosi dan longsor, hal ini akibat sifat tanah yang gembur dan mudah jenuh air.

“Banjir bandang terjadi lewat peningkatan limpasan permukaan yang cepat, serta suplai sedimen tinggi akibat sifat tanah yang dangkal, tidak stabil, dan mudah tererosi,” pungkasnya. (Bud)