Semarang, Idola 92.6 FM-Persoalan sampah di Indonesia hari ini bukan lagi isu lingkungan semata tapi sudah menjadi “alarm” darurat nasional. Hampir di semua daerah, kita menghadapi masalah yang sama: timbunan sampah terus meningkat, sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah kelebihan kapasitas.
Bahkan, Presiden RI, Prabowo Subianto, secara terbuka menyatakan bahwa persoalan sampah kini menjadi masalah bangsa yang sangat krusial. Dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, baru-baru ini, Presiden menyebut bahwa hampir seluruh TPA di Indonesia diproyeksikan akan mengalami overcapacity pada tahun 2028, bahkan bisa lebih cepat.
Merespons kondisi ini, pemerintah pusat merencanakan pembangunan 34 proyek pengolahan sampah menjadi energi yang tersebar di 34 kabupaten/kota masing-masing dengan timbunan sampah di atas 1.000 ton per hari. Proyek ini diperkirakan menelan investasi sekitar USD 3,5 miliar atau hampir Rp 59 triliun dan ditargetkan beroperasi dalam dua tahun ke depan, dengan pemerintah memimpin proyek secara penuh.
Lalu, pertanyaannya kemudian, apakah kebijakan ini cukup untuk menjawab darurat sampah yang sudah di depan mata? Apakah pengolahan sampah menjadi energi bisa menjadi solusi jangka panjang atau justru hanya solusi darurat di hilir?
Kemudian, apa pula yang seharusnya dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari perubahan perilaku masyarakat, pengelolaan di daerah hingga kebijakan nasional, agar persoalan sampah tidak terus berulang?
Untuk membedah persoalan ini secara jernih, radio Idola Semarang berdiskusi bersama narasumber, yakni: Prof Syafrudin (Pengamat lingkungan dari Universitas Diponegoro Semarang), Sumarno (Sekda Provinsi Jawa Tengah), dan Dr. Djoko Suwarno (Pengamat Lingkungan). (her/yes/dav)
Simak podcast diskusinya:














