ilustrasi/istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM-Indonesia membuka awal tahun 2026 dengan satu angka yang cukup mencuri perhatian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Januari 2026 mencapai 3,55 persen secara tahunan, angka tertinggi sejak Mei 2023. Kenaikan ini didorong antara lain oleh normalisasi tarif listrik, kenaikan harga beras, serta emas.

Namun menariknya, jika dilihat secara bulanan, Indonesia justru mengalami deflasi 0,15 persen, seiring turunnya harga bahan pangan seperti cabai dan bawang. Artinya, di balik angka inflasi tahunan yang terlihat tinggi, dinamika harga di lapangan tidak sepenuhnya melonjak.

Sejumlah ekonom, salah satunya dari Universitas Indonesia, menilai, inflasi ini lebih banyak dipengaruhi oleh efek basis rendah, akibat kebijakan diskon tarif listrik awal tahun 2025 yang membuat perbandingan tahunannya terlihat melonjak di 2026.

Di sisi lain, tahun 2026 pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen. Maka menjadi penting untuk melihat, apakah inflasi di level ini justru mengganggu daya beli dan dunia usaha, atau masih dalam batas aman untuk menjaga momentum pertumbuhan? Apakah ini alarm serius bagi perekonomian, atau sekadar efek statistik?

Untuk membahas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi bersama dua narasumber, yakni Mohammad Faisal (Direktur Eksekutif CORE Indonesia) dan Adhi S Lukman (Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI)). (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: