Gerakan Indonesia ASRI (Aman Sehat Resik Indah).

Semarang, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto, dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Bogor beberapa waktu lalu meluncurkan sebuah terobosan baru bernama Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

Gerakan ini berangkat dari kegelisahan Presiden terhadap wajah kota-kota kita yang dinilai semakin semrawut dan jauh dari kesan bersih serta tertata.

Presiden secara gamblang menyoroti sampah yang tak terkelola dengan baik, baliho dan spanduk yang memenuhi jalan protokol serta kabel-kabel listrik dan utilitas yang berseliweran tanpa penataan. Bahkan, dalam berbagai kunjungannya ke daerah, mulai Balikpapan, Banjarmasin, hingga kawasan sekitar Hambalang—pemandangan tersebut dinilai mengganggu keindahan kota dan citra Indonesia di mata wisatawan mancanegara.

Presiden menyampaikan, Gerakan Indonesia ASRI menekankan perubahan nyata di lapangan, bukan sekadar slogan. Pemerintah pusat ingin kebersihan lingkungan dan penataan ruang publik menjadi kerja bersama lintas sektor: pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Lalu, pertanyaannya kemudian, seberapa penting dan mendesak “Gerakan Indonesia ASRI” ini? Bagaimana implementasinya di daerah yang punya keterbatasan anggaran, kewenangan, dan kompleksitas persoalan masing-masing? Dan yang tak kalah penting, apa tantangan terbesarnya agar gerakan ini tidak berhenti sebagai wacana simbolik semata?

Untuk mengulas isu ini secara jernih, radio Idola Semarang berdiskusi bersama narasumber Prof Hartuti Purnaweni (Pengamat Lingkungan/ Guru Besar dalam Bidang Ilmu Tata Kelola Lingkungan Departemen Administrasi Publik Universitas Diponegoro Semarang) dan Widi Hartanto (Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah). (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: