Semarang, Idola 92,6 FM-Dari balik rimbunnya pepohonan durian di lereng Gunungpati, Semarang, tersimpan cerita tentang kesabaran, cinta keluarga dan persiapan masa pensiun yang dijalani dengan penuh makna.
Wuryanto, pemilik Kebun Durian Tambah Tumbuh membuktikan, bahwa masa tua tak harus dilalui dengan diam di rumah, melainkan bisa diisi dengan karya yang terus bertumbuh. Hal itu dikatakan saat ditemui di kebunnya di daerah Gunungpati, Semarang, Sabtu (7/2).
Berawal dari hobi dan kecintaan keluarga terhadap durian, Wuryanto dan sang istri mulai merancang kesibukan untuk hari tua sejak masih aktif bekerja di Jakarta.
“Saya senang, keluarga juga senang. Setelah pensiun saya nggak mau cuma di rumah. Dari situlah muncul keputusan besar, membangun kebun durian yang jaraknya tak lebih dari dua jam dari rumah, agar bisa dipantau setiap hari,” kata Wuryanto.
Pencarian lahan pun tak sebentar. Hampir dua tahun Wuryanto menyusuri berbagai wilayah seperti Mijen, Karanganyar hingga Solo.
Hingga akhirnya, rezeki datang lebih dekat dari yang dibayangkan.
Menurutnya, sebidang tanah di Gunungpati, hanya sekitar 30-40 menit dari rumahnya menjadi pilihan.
Sejak 2017, satu per satu pohon durian mulai ditanam dengan penuh perhitungan.
“Empat tahun pertama lebih banyak diisi dengan pengeluaran tanpa hasil. Belum panen, uang terus keluar,” jelasnya.
Dengan menggandeng konsultan ahli dan pengawas tepercaya, Wuryanto memastikan kebunnya dirawat dengan standar yang baik, meski ia masih bolak-balik Jakarta-Semarang.
Kini, di atas lahan seluas lebih dari dua hektare, sekira 230 pohon durian tumbuh subur.
Varietas unggulan seperti Musang King, Black Thorn, Bawor, Mas Muar hingga Montong ditanam bertahap.
“Memasuki tahun ketujuh, sekitar 50-60 pohon mulai berbuah optimal. Beberapa mampu menghasilkan 30-40 buah per pohon,” imbuhnya.
Lebih lanjut Wuryanto menjelaskan, meski permintaan tinggi, dirinya memilih jalur penjualan ritel agar kualitas tetap terjaga dan konsumen tidak kecewa.
Harga pun mengikuti pasar, mulai dari Montong Rp70 ribu per kilogram hingga Musang King dan Black Thorn yang menembus Rp300 ribu per kilogram.
Sahabatnya, Anik Pujiastuti, yang juga rekan semasa bekerja di Bank Indonesia, mengaku kagum dengan kegigihan Wuryanto.
Menurutnya, kebun durian ini bukan sekadar ladang bisnis, tetapi simbol persiapan pensiun yang matang dan membahagiakan.
“Ini contoh back to nature yang menghasilkan. Tapi memang perlu waktu dan kesabaran,” ujarnya.
Cerita Kebun Durian Tambah Tumbuh menjadi bukti, bahwa menanam hari ini bukan hanya tentang memetik hasil esok hari, tetapi juga tentang menanam harapan, ketenangan dan kebahagiaan di masa depan. (Bud)









