Semarang, Idola 92.6 FM-Ada berbagai tradisi dalam masyarakat di Nusantara dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Tradisi tersebut tak semata seremoni menyongsong bulan penuh ampunan bagi kaum muslim, di baliknya juga penuh makna simbolik dan budaya. Dalam masyarakat Jawa—khususnya di Jawa Tengah, dua tradisi menyambut bulan suci Ramadan itu yakni Festival Dugderan di Kota Semarang dan Festival Jenang Indonesia di Kota Surakarta.
Dugderan merupakan sebuah festival budaya khas yang menandai dimulainya bulan puasa sejak abad ke-19 atau sekitar tahun 1881. Tradisi ini menggabungkan akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab, ditandai dengan arak-arakan Warak Ngendog, bunyi bedug (“dug”) dan meriam (“der”), pasar rakyat, serta prosesi tabuh bedug di Balai Kota/Masjid Agung. Dugderan merupakan perayaan terbesar yang melibatkan arak-arakan budaya dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT. Ikon utama, Warak Ngendog, melambangkan akulturasi: kepala naga (Tionghoa), tubuh unta (Arab), dan kaki kambing (Jawa). Pasar rakyat menyertainya dengan menjual berbagai mainan tradisional dan jajanan khas.

Sementara itu, Festival Jenang Indonesia di Kota Solo merupakan perayaan kuliner tradisional khas Nusantara yang penuh rasa, cerita, dan kebersamaan. Festival ini menjadi ikon wisata budaya yang unik di Solo yang menonjolkan keberagaman jenis jenang dari berbagai daerah di Indonesia. Festival Jenang tahun ini akan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026 di Koridor Ngarsopuro & Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta.
Nah, selengkapnya, mengupas mengenai lebih dalam Festival Dugderan di Kota Semarang serta Festival Jenang di Kota Solo—dan, apa yang baru di tahun ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber: Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, ndriyasari dan Koordinator Artistik Festival Jenang, Heru Mataya. (her/yes/dav)
Simak podcast diskusinya:









