Rencana Indonesia mengirim hingga 8.000 personel pasukan perdamaian ke Gaza dinilai akan membuat gerah kelompok garis keras di Tel Aviv, Israel. Kedatangan pasukan Indonesia sebagai bagian dari International Stabilisation Force (ISF) itu akan memperlemah kontrol Israel Defense Forces (IDF) dalam upaya emigrasi paksa warga Palestina. Hal itu dikatakan pengamat militer sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, Senin (16/2). (Foto Dok. Istimewa)

Jakarta, Idola 92.6 FM-Rencana Indonesia mengirim hingga 8.000 personel pasukan perdamaian ke Gaza dinilai akan membuat gerah kelompok garis keras di Tel Aviv, Israel.

Pasalnya, kedatangan pasukan Indonesia sebagai bagian dari International Stabilisation Force (ISF) itu akan memperlemah kontrol Israel Defense Forces (IDF) dalam upaya emigrasi paksa warga Palestina.

“Tujuan akhir faksi kanan ini jelas, yaitu membangun kembali permukiman Yahudi di atas puing-puing Gaza (aneksasi). Kehadiran 8.000 tentara Indonesia adalah antitesis mutlak dari skenario tersebut,” kata pengamat militer sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, Senin (16/2).

Menurutnya, keberadaan pasukan asing—apalagi dari negara yang tidak mengakui Israel—akan menjadi penghalang fisik dan politik bagi ambisi Israel.

Laporan intelijen yang dikutip The Guardian menyebutkan pasukan Indonesia direncanakan menempati barak di wilayah selatan, antara Rafah dan Khan Younis. Secara taktis, kata Khairul, ini adalah lokasi choke point yang sangat strategis.

“Kehadiran fisik ribuan personel TNI di koridor ini akan secara efektif memutus rantai kontrol Israel dan mencegah manuver pengusiran penduduk,” kata dia.

TNI yang berada di lapangan bukan sekadar penjaga perdamaian, melainkan penanda batas wilayah yang secara de facto mengakui kedaulatan tanah tersebut. Hal ini menegaskan bahwa Gaza adalah milik rakyat Palestina, bukan tanah tak bertuan (terra nullius) yang bisa dicaplok seenaknya.

“Inilah tembok geopolitik yang membuat sayap kanan Israel gerah,” ujar Khairul.

Dalam laporannya pada 10 Februari, The Guardian dan Radio Publik Israel mengungkap fakta bahwa tokoh-tokoh sayap kanan Israel mati-matian menolak kehadiran TNI dalam ISF. Kekhawatiran ini, kata Khairul, mengonfirmasi opini Moshe Phillips di The Jerusalem Post pada 27 November 2025.

Pemimpin Americans For A Safe Israel (AFSI), sebuah organisasi advokasi dan pendidikan pro-Israel terkemuka itu, secara eksplisit menyebut pengiriman pasukan Indonesia sebagai “strategic mistake” bagi Israel. Phillips bahkan mendesak agar pasukan Indonesia “must stay home” (harus tetap di rumah) karena dianggap memiliki agenda politik yang terlalu pro-Palestina.

Fakta tersebut jelas menjawab dengan tegas narasi dari kalangan skeptis yang menyebut Indonesia sedang masuk ke dalam “jebakan” Amerika Serikat.

Rencana kedatangan pasukan Indonesia ini justru membuat gerah dan ditentang keras oleh kelompok-kelompok garis keras di Tel Aviv, bahkan memicu kekhawatiran di kalangan faksi sayap kanan koalisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (her/dav)