
Sukoharjo, Idola 92.6 FM-Kesempatan untuk kembali bekerja lembur menjadi harapan sederhana namun bermakna bagi Widodo (45), salah seorang perajin genteng tradisional di Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Di tengah debu tanah liat dan panasnya tungku pembakaran, ia dan para perajin lain menantikan bangkitnya kembali industri yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup mereka.
Program Gentengisasi yang diinisiasi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dipandang sebagai angin segar bagi para pekerja kecil seperti Widodo, yang telah menggantungkan hidupnya pada industri genteng tradisional.
Ia bercerita, upah hariannya sebagai perajin genteng hanya berkisar Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu. Jika ada tambahan waktu kerja, penghasilannya bisa mencapai Rp 100 ribu per hari, jumlah yang sangat berarti untuk kebutuhan keluarga.
“Alhamdulillah, sudah bisa kecukupan semua. Kadang bisa lembur. Kadang kalau pakai lembur, ya, hampir seratusan per hari,” ujarnya dikutip Selasa (17/2).
Namun, situasi tidak selalu berpihak. Saat permintaan menurun dan produksi macet, ia hanya bisa bekerja 3–4 hari dalam seminggu. Pendapatannya pun ikut terpangkas, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Kondisi itulah yang membuatnya menaruh harapan besar pada program Gentengisasi. Ia mendukung penuh program tersebut, dengan harapan roda produksi kembali berputar normal agar bisa bekerja penuh, bahkan lembur secara rutin seperti masa-masa sebelumnya.
“Saya mendukung program-programnya Pak Prabowo. Memang saya sudah setuju banget sama Pak Prabowo niku (program Gentengisasi),” tegasnya.
Dukungan tersebut bukan tanpa alasan. Bagi Widodo, lembur bukan sekadar menambah jam kerja, melainkan peluang untuk menambah penghasilan demi kestabilan ekonomi keluarga dan masa depan anak-anaknya. Karena itu, ia pun menyelipkan doa untuk pemimpin yang menurutnya membawa harapan baru bagi para perajin. “Terima kasih, Pak Prabowo, semoga sehat selalu, diparingi panjang umur,” ucapnya mendoakan.
Harapan serupa juga disampaikan Sugianto, perajin genteng lain di Polokarto yang telah sekitar 30 tahun bekerja di industri yang sama. Dengan penghasilan harian sekitar Rp 80 ribu, ia merasakan langsung dampak ketika produksi tidak berjalan optimal.
Apabila industri genteng kembali bergairah melalui program Gentengisasi, ia meyakini masyarakat kecil seperti dirinya dapat terus bekerja secara berkelanjutan dan menghidupi keluarga dengan lebih layak.
“Terima kasih Pak Prabowo. Semoga rakyat kecil semakin diperhatikan dan kehidupan kami bisa lebih baik,” katanya penuh harap. (her/dav)











