
Sukoharjo, Idola 92.6 FM-Maryono (52 tahun), warga Desa Wirun, Kabupaten Sukoharjo, bertahan menjaga warisan keluarga yang telah dirintis sejak zaman ayahnya. Usaha genting tanah liat yang ia kelola bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga napas hidup bagi belasan keluarga.
“Meneruskan usaha Ayah, ini turun temurun. Rata-rata (produksi) per harinya 800-900, empat pekerja,” ujar Maryono, Selasa, (17/2)
Jika seluruh mesin dioperasikan, kapasitas produksi bisa meningkat signifikan. Maryono memiliki tiga mesin cetak. Dalam kondisi penuh, usaha kecil itu mampu menyerap hingga 15 tenaga kerja.
“Kalau proses pembikinan berhubung cuma 5 orang, jadi satu mesin. Kita punya 3 mesin. Jadi, 15 tenaga,” katanya.
Maryono mengenang masa ketika genting tanah liat menjadi pilihan utama masyarakat. Pesanan datang silih berganti, produksi stabil, dan tak banyak hambatan.
“Kalau dulu enak Pak, prosesnya. Kan sekarang itu pesaingnya itu genting dari seng. Itu kita habis, banyak kan pada gulung tikar, Pak. Soalnya pada beralih ke seng,” tuturnya.
Namun, kondisi kini jauh berbeda. Persaingan dengan atap seng membuat banyak perajin gulung tikar. Ditambah lagi persoalan distribusi solar yang kian rumit.
“Terus kendalanya, kalau dulu enggak ada kendala soalnya kita beli solar, minyak, itu paling penak dari dulu, Pak. Kalau sekarang susah cari solar,” keluhnya.
Ketika tak mendapatkan solar bersubsidi, Maryono terpaksa membeli dari tengkulak dengan harga lebih mahal, mencapai Rp 8.000 hingga Rp 8.500 per liter. Biaya produksi pun membengkak.
Meski demikian, bahan baku tanah liat masih relatif mudah diperoleh dari sawah dan kampung sekitar. Dalam sebulan, usaha ini mampu memproduksi sekitar 30 ribu genteng, dengan upah pekerja rata-rata Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per hari, sudah termasuk makan.
Di tengah tekanan tersebut, Maryono mengaku mendapat harapan baru setelah mendengar rencana program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi dari program Pak prabowo itu kita dapat kayak angin segar. Kalau bisa lanjutkan, Pak. Dengar dari Youtube itu, Pak. Dari Presiden, 4 orang saya mengalami, 5 orang Presiden dari Pak Harto (Soeharto) sampai sekarang. Yang memikirkan genteng cuma Pak Bowo (Prabowo),” ujarnya.
Ia menilai perhatian terhadap industri genting lokal penting agar perajin kecil tidak semakin terpinggirkan. Menurutnya, genting tanah liat juga lebih kuat dibanding seng ketika diterpa angin kencang.
“Suka banget. Jolos, mantap, Pak. Lanjutkan. Kita masyarakat itu diperhatikan banget kalau ada gitu. Enggak kayak dulu itu enggak ada. Kita kayak terabaikan. Ya, usaha-usaha genting lokal itu bisa naik lagi, Pak. Enggak kayak kali ini kan sudah pada yang belum kita bisa kerja lagi. Enggak nganggur, gitu,” katanya penuh harap.
Maryono memiliki dua anak. Satu hampir kuliah, satu lagi duduk di kelas tiga SMP. Ia merasakan perbedaan kondisi ekonomi dibanding masa lalu. Baginya, keberlangsungan usaha bukan hanya soal keuntungan pribadi. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya.
“Kayak saya itu ibaratnya bisa menghidupkan 15 kepala keluarga, Pak. Tenaga (kerja) saya kan sudah nikah semua, punya anak semua,” katanya.
Di akhir perbincangan, Maryono menyampaikan doa sederhana untuk pemimpin negeri. Menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas rencana program Gentengisasi.
“Untuk Pak Presiden Prabowo yang terhormat, yang kita cintai, terima kasih, Pak, atas program Gentengisasi. Semoga masyarakat Soekarjo lebih maju, lebih makmur dari yang dulu. Sekarang kalau ada program itu lebih makmur. Jaya, jaya, Pak Prabowo, jaya! Sehat selalu ya, Pak Presiden. Kita dari rakyat itu cuma mendoakan agar Bapak sehat selalu. Sehat-sehat selalu ya, Pak Presiden,” pungkasnya. (her/dav)











